Kepahiang, Kompasone.com — Desa Pelangkian resmi ditetapkan sebagai zona bebas stunting setelah mencatatkan angka prevalensi 0%. Keberhasilan ini merupakan buah manis dari kolaborasi intensif antara Kader Posyandu setempat dengan Puskesmas Kolobak dalam mengawal kesehatan balita dan ibu hamil.
Melalui program yang terukur, lebih dari 50 balita dan ibu hamil di desa tersebut menerima bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), asupan protein, serta vitamin secara gratis setiap pekannya.
Ketua Posyandu Desa Pelangkian, Neti Matika, menegaskan bahwa pihaknya tidak memberikan ruang bagi munculnya kasus baru. Beliau menekankan pentingnya pengawasan ketat sejak masa kehamilan.
"Satu pun tidak boleh ada (stunting)! Kami rutin melakukan jemput bola untuk mendata ibu hamil sejak dini, termasuk memberikan edukasi bagi mereka yang menikah di usia muda mengenai pentingnya gizi MP-ASI yang benar," ujar Neti dengan penuh semangat.
Ia menambahkan bahwa komitmen ini merupakan kontribusi nyata tingkat desa untuk mendukung visi besar nasional.
"Ibu hamil yang sehat akan melahirkan bayi yang normal 100 persen. Ini adalah kado nyata dari kami untuk menyongsong Indonesia Emas 2045," lanjutnya.
Kesuksesan Desa Pelangkian dalam mengeliminasi stunting bertumpu pada tiga pilar utama:
- PMT Mingguan Komprehensif: Distribusi pangan bergizi tinggi yang dilakukan secara konsisten.
- Edukasi Preventif: Sosialisasi intensif untuk mencegah pernikahan dini dan memperbaiki pola asuh.
- Sinergi Medis 24/7: Pendampingan penuh dari Puskesmas Kolobak untuk konsultasi kesehatan warga.
Pemanfaatan Dana Desa yang tepat sasaran ini kini menjadi teladan dalam skala nasional. Saat ini, Kabupaten Kepahiang secara umum berhasil menekan angka stunting hingga di bawah 9%—menempatkannya di peringkat pertama terbaik di Provinsi Bengkulu.
Desa Pelangkian melampaui capaian tersebut dengan angka 0%, dan berkomitmen penuh untuk mempertahankan target zero new cases sepanjang tahun 2026.
>Tarmidzi


