Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

MBG Diduga Berbelatung Dikembalikan, Pengawasan Ahli Gizi dan Kepala SPPG Dipertanyakan

Rabu, Mei 06, 2026, 20:19 WIB Last Updated 2026-05-06T13:19:18Z

Pandeglang, kompasone.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Cigadung, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang, Banten, kembali menjadi sorotan. Paket makanan dari dapur MBG Insani Fastabiqul Khairat (SPPG Cigadung 3) dilaporkan dikembalikan karena diduga tidak layak dikonsumsi.


Insiden terjadi pada Rabu (6/5/2026). Menu ayam stik atau nugget yang dibagikan kepada siswa disebut berbau tidak sedap dan ditemukan belatung. Salah satu guru di sekolah penerima manfaat membenarkan kondisi tersebut.


“Benar, ayamnya berbau tidak sedap dan terdapat belatung di dalamnya, sehingga tidak layak dikonsumsi,” ujarnya kepada wartawan.


Temuan ini memantik pertanyaan serius terkait kualitas dan pengawasan program yang seharusnya menjamin asupan gizi aman bagi peserta didik. Alih-alih memberikan manfaat, makanan yang diduga bermasalah justru berpotensi membahayakan kesehatan.


Penanggung jawab dapur MBG, Parta, mengakui adanya kejadian tersebut. Ia menyebut telah berkoordinasi dengan PIC di masing-masing sekolah sebagai langkah penanganan.


“Sudah kami koordinasikan dengan PIC sekolah. Untuk hari ini diganti, dan akan didistribusikan kembali besok secara rapel. Pengganti hari ini tetap diberikan, dan rapel masih ada,” ujar Parta.


Ia juga menambahkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan SPPI serta menjalankan standar operasional prosedur (SOP). “Jika ditemukan makanan yang tidak layak, dapur akan menggantinya dengan yang layak,” tambahnya.


Namun, langkah penggantian melalui sistem rapel justru menuai kritik. Berdasarkan petunjuk teknis yang disampaikan Wakil Ketua Badan Gizi Nasional, Nanik, distribusi MBG tidak diperbolehkan dirapel selama kegiatan belajar mengajar masih berlangsung. Program ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi harian siswa, bukan melalui akumulasi distribusi yang berpotensi menurunkan kualitas makanan.


Wartawan pun mempertanyakan kinerja dan pengawasan dari ahli gizi serta Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Bagaimana mungkin makanan yang diduga tidak layak bisa lolos hingga tahap distribusi, sementara solusi yang diambil justru berpotensi menyimpang dari ketentuan teknis.


Jika standar operasional prosedur benar-benar dijalankan, insiden makanan berbau dan berbelatung seharusnya dapat dicegah sejak dari dapur. Fakta di lapangan menunjukkan adanya celah serius dalam pengendalian mutu, mulai dari proses pengolahan hingga distribusi.


Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program MBG. Program strategis yang menyasar pemenuhan gizi anak sekolah tidak boleh dikelola secara serampangan. Ketika kualitas diabaikan dan pengawasan melemah, yang dipertaruhkan bukan hanya kredibilitas program, tetapi juga kesehatan generasi penerus bangsa.


(Hamzah)

Iklan

iklan