Dunia hari ini sering kali menyerupai sebuah panggung sandiwara yang penuh dengan Kamuflase Etika. Kita hidup di masa di mana lirik Iwan Fals tentang "Maling Teriak Maling" bukan lagi sekadar nyanyian, melainkan sebuah strategi murah bagi mereka yang ingin menutupi lubang di pakaiannya dengan menunjuk robekan pada baju orang lain. Ini adalah trik kuno para munafik: melempar debu ke mata publik agar cacat di wajah sendiri luput dari pengamatan.
Ada sebuah pepatah yang begitu purba dalam pandangan manusia. Kita sanggup melihat semut di ujung samudra, penghakiman yang begitu canggih, namun gajah yang sedang duduk manis di pelupuk mata seolah raib ditelan kabut kesombongan. Kita begitu mahir merangkai narasi tentang kesalahan orang lain, menghitung butir demi butir "dosa" cara mereka mencari nafkah, tanpa pernah sekalipun menyediakan waktu untuk berkaca. Sudahkah tangan kita sendiri bersih dari noda?
Semesta tidak diciptakan untuk menjadi seragam yang membosankan. Perhatikanlah alam semesta berbicara; cara ular melata untuk menyergap mangsa dalam diam tentu tak bisa disamakan dengan auman singa yang membelah rimba. Keduanya adalah pemburu, namun memiliki detak jantung dan irama kaki yang berbeda. Begitu pun manusia. Menghakimi cara hidup orang lain agar terlihat "ideal" di mata kita adalah bentuk kelancangan terhadap skenario Sang Pencipta yang Absolut.
Setiap individu memiliki rantai kehidupannya masing-masing. Memaksakan standar moralitas pribadi kepada orang lain terutama dalam urusan perut dan profesihanyalah upaya sia-sia untuk menjadi "Tuhan Kecil" yang dikte. Padahal, kita hanyalah debu di tengah keluasan galaksi-Nya.
Penyakit kronis dalam interaksi sosial kita saat ini adalah keinginan untuk tampak paling terang dengan cara mematikan saklar lampu orang lain. Banyak yang merasa bahwa untuk naik ke puncak, mereka harus menginjak pundak sesamanya. Mereka merasa bahwa untuk dianggap suci, mereka harus mengumbar najis pada pakaian saudaranya.
Padahal, cahaya yang sejati tidak membutuhkan kegelapan orang lain untuk bersinar. Jika kau memang mentari, kau akan terbit tanpa perlu meminta bintang untuk padam.
Kita harus berhenti menjadi hakim bagi mata rantai kehidupan yang sudah diatur oleh semesta. Biarlah roda itu berputar pada porosnya. Menjatuhkan martabat profesi orang lain demi menaikkan pamor sendiri hanyalah menunjukkan betapa dangkalnya wawasan dan betapa keringnya nurani yang kita miliki.
Eksistensi manusia di bumi ini sejatinya berpijak pada dua pilar yang tak boleh timpang. Hablun minallah (hubungan dengan Sang Khalik) dan Hablun minannas (hubungan dengan sesama manusia). Seringkali, kita merasa sudah sangat dekat dengan Tuhan, namun perilaku kita terhadap sesama justru mencerminkan keangkuhan iblis. Kita bicara tentang ketuhanan, tapi tangan kita sibuk merobek jaring-jaring rezeki orang lain.
Mari bekerja sesuai porsi dan panggilan masing-masing. Berhentilah menjadi provokator dalam drama kehidupan orang lain. Dunia ini cukup luas untuk kita semua mencari makan tanpa harus saling sikut, dan langit pun cukup tinggi untuk kita semua terbang tanpa harus saling menjatuhkan.
Sebab pada akhirnya, di hadapan Sang Pemilik Absolut, bukan seberapa terang lampu yang kita curi yang akan dihitung, melainkan seberapa tulus kita membiarkan orang lain tetap bersinar di samping kita.
R. M Hendra
(Catatan Kecil Bajingan Kota Siang ini)
