Apa yang sedang merasuki benak para petinggi desa di bawah kanopi Kabupaten Sumenep ini. Secara berjamaah, mereka mendadak kompak melakukan operasi "senyap" menyeberang lautan menuju Pulau Lombok. Perginya pun tak tanggung-tanggung: diam-diam, sembunyi-sembunyi, seolah-olah sedang menjalankan misi rahasia negara yang amat genting.
Gaya gerilya para Kepala Desa (Kades) ini tentu saja memantik api kecurigaan. Jika tujuannya benar-benar untuk kemaslahatan rakyat atau studi banding yang berfaedah, lantas mengapa harus kucing-kucingan dengan publik? Justru cara-cara "gelap" seperti inilah yang membuat para pencari celah mulai bertanya-tanya dan akhirnya berfantasi liar.
Publik kini bertanya: agenda apa yang sebenarnya sedang dirancang di tanah Lombok? Dan yang paling krusial, bersama siapa mereka menghabiskan malam saat beristirahat? Terutama bagi oknum Kades yang konon mengidap "penyakit" kronis alias tidak bisa jauh-jauh dari belaian istri.
Kepergian yang dibungkus pamit "Jihad Gerilya" ini praktis membuat para ibu-ibu alias istri para Kades di rumah dilanda kegelisahan hebat. Bapak pamitnya berjuang untuk rakyat, tapi kok koordinatnya malah di destinasi wisata premium? Jangan-jangan, jihad yang dimaksud hanyalah alibi untuk melepaskan penat dari omelan di rumah dan tumpukan laporan Dana Desa.
Sebuah potongan video yang beredar menggambarkan betapa "merdekanya" para pemimpin desa ini saat berada di atas dek kapal besar. Dalam rekaman itu, nampak aura kebebasan yang membuncah, seolah-olah mereka baru saja lepas dari belenggu rutinitas yang membosankan.
Ada yang sibuk berswafoto (selfie) dengan latar laut lepas, ada yang bersandar syahdu di kabin kapal seolah sedang berpuisi kepada langit tentang betapa mahalnya sebuah kebebasan. Bahkan, ada pula yang berdiri tegak sambil tersenyum simpul sebuah senyum kemenangan seolah yakin betul bahwa mereka telah berhasil mengelabui media dan publik. Mereka merasa mampu terbang bebas tanpa terendus satu pun radar pencari berita.
Sayangnya, para Bapak Kades ini lupa bahwa di era digital, tembok pun punya telinga dan ombak pun punya mata. Sehebat apa pun kalian bersembunyi di balik nama "kunjungan kerja" atau "koordinasi wilayah," rakyat tetap mencium bau amis arogansi.
Jika memang ingin berlibur, berliburlah dengan jantan. Jangan jadi pengecut yang pergi sembunyi-sembunyi menggunakan fasilitas dan mandat rakyat, namun saat pulang hanya membawa cerita kosong tentang indahnya Mandalika, sementara urusan desa di Sumenep masih banyak yang terbengkalai.
Tunggu saja, peluru-peluru pertanyaan dari masyarakat akan segera melesat saat kalian menginjakkan kaki kembali di bumi Sumenep. Siapkan jawaban yang masuk akal, atau silakan lanjut bersembunyi di balik "ketiak" alibi yang kalian ciptakan sendiri.
Penulis:
(R. M Hendra)
