Membaca polemik yang berkembang belakangan ini mengenai integritas profesi, kita seakan diajak menghadap sebuah cermin yang retak. Fakta-fakta yang tersaji mulai dari catatan transaksi, rekaman komunikasi, hingga aberasi perilaku di lapangan adalah potret buram yang tidak mungkin kita mungkiri. Namun, untuk memahami fenomena ini secara utuh, kita perlu melangkah mundur sejenak, memandang persoalan bukan dari sempitnya celah kejengkelan, melainkan dari cakrawala berpikir yang lebih luas, jernih dan berwawasan.
Sangatlah mudah untuk menjatuhkan vonis bahwa profesi jurnalis atau aktivis kini sekadar menjadi "jas hujan" pelindung kepentingan pribadi. Namun, kita harus objektif, bukankah di setiap lingkungan ladang yang subur sekalipun, alang-alang akan selalu tumbuh...? Menyalahkan seluruh jaringan profesi hanya karena eksistensi segelintir oknum yang "berisik" adalah sebuah kekeliruan logika. Kita tidak boleh membiarkan perilaku minoritas mengubur dedikasi mayoritas yang masih teguh memegang etika.
Ketika narasi tentang "Aktivis yang datang demi amplop" mengemuka, kita perlu menyadari bahwa dalam setiap tarian gelap, selalu dibutuhkan dua pihak untuk berdansa. Jika oknum yang meminta adalah satu sisi koin, maka sistem yang memilih untuk "membayar guna membungkam" adalah sisi lainnya. Ini bukan sekadar persoalan perut, melainkan ujian atas integritas kolektif. Transparansi adalah obat bagi intimidasi; karena hanya pintu yang terkunci rapat dan jendela yang berdebulah yang akan selalu mengundang rasa penasaran para pencari celah.
Ada argumen yang menyebutkan bahwa pudarnya idealisme adalah dampak dari "dapur yang dipaksa berasap" atau tekanan ekonomi. Meskipun terdengar manusiawi, narasi ini mengandung risiko yang fatal. Menjadikan kemiskinan sebagai legitimasi atas hilangnya etika sama saja dengan merendahkan martabat mereka yang tetap memilih jujur di tengah keterbatasan.
Banyak rekan kita di Madura yang sulit memejamkan mata bukan karena beban materi, melainkan karena nurani yang terusik oleh ketidakadilan. Integritas bukanlah komoditas yang bisa diletakkan di atas timbangan kiloan. Menjadi jurnalis atau aktivis sejati adalah sebuah panggilan sunyi, bukan sekadar pelarian ekonomi atau jembatan menuju kemapanan instan.
Kita sepakat bahwa daerah kita membutuhkan akses, kesempatan, dan keberpihakan ekonomi. Namun, menunggu kemakmuran datang demi tegaknya kejujuran adalah sebuah visi yang melenakan. Sejarah peradaban mencatat bahwa kebenaran sering kali lahir dari rahim penderitaan dan kesederhanaan, bukan dari meja makan yang melimpah ruah.
Bukannya terjebak dalam lingkaran saling sindir, alangkah lebih bermartabat jika kita mulai membangun jembatan komunikasi yang sehat dan edukatif. Ujian sesungguhnya bagi dunia pers dan aktivisme bukan hanya terletak pada kemampuan menyajikan informasi yang tajam, tetapi juga pada kesiapan masyarakat untuk menghargai kebenaran tersebut tanpa upaya untuk "membelinya".
Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan sekadar suara keras yang hampa, melainkan kejernihan hati. Perut yang kenyang tidak pernah menjadi jaminan bagi lisan untuk bicara jujur jika batinnya sudah terbiasa mencecap manisnya hasil manipulasi. Mari kita selamatkan marwah profesi ini dengan memperbaiki karakter individu sekaligus menata kembali transparansi publik, agar kepercayaan masyarakat tidak runtuh oleh debu-debu kepentingan sesaat.
(R. M Hendra)
Redaksi kompasone.com
