Tulungagung, Kompasone.com – Tumpukan sampah yang meluber di depan Makam Setono Ampel, tepat di timur Perumahan Puri Permata, menimbulkan keresahan warga Desa Mangunsari.
Kondisi ini sudah berlangsung beberapa lama dan semakin mengganggu aktivitas masyarakat yang setiap hari melewati jalan tembusan tersebut antara perumahan dan Desa Mangunsari.
Menurut warga sekitar, Basoni, 48 tahun, warga RT 1/RW 2, mengungkapkan kekecewaannya atas situasi yang tidak kunjung ditangani oleh pihak terkait.
“Sampah sudah meluber sampai ke jalan. Saya sudah melaporkan ke pihak desa, tapi belum ada tindakan nyata,” ujar Basoni kepada Kompas One.
Basoni menambahkan, bau menyengat dan pemandangan kumuh membuat warga tidak nyaman, apalagi lokasi itu ramai dilalui peziarah maupun warga sekitar.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah warga lain yang menilai keberadaan sampah bukan hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
Mereka berharap pemerintah desa dan pihak terkait segera turun tangan agar kondisi tidak semakin parah.
Kepala Desa Mangunsari, Agus Fahrozi, saat dihubungi melalui telepon menjelaskan bahwa pihak desa telah melaporkan masalah ini ke dinas terkait.
"Insya Allah secepatnya ada tindakan. Kami juga menyayangkan, sampah yang menumpuk bukan hanya dari warga Mangunsari, tetapi juga dari perumahan sebelah timur yang belum memiliki lokasi pembuangan,” kata Agus.
Ia menegaskan, pihak desa akan terus berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar segera ada solusi, sekaligus mengimbau masyarakat untuk lebih tertib dalam membuang sampah.
Sementara itu, anggota DPRD Komisi D dari PKS, Adrianto, S.Pd, juga menyayangkan kondisi tersebut.
"Kemarin kita juga menerima aduan dari Kelurahan Bago dan sudah kita koordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk segera menyelesaikan tumpukan sampah agar warga menjadi tenang dan nyaman,” jelasnya.
Menurut Adrianto, Dinas Lingkungan Hidup menghadapi dua kendala utama: pertama, banyak kendaraan truk sampah yang sedang dalam perawatan sehingga armada berkurang sementara, masalah kedua karena adanya reset sistem barcode Pertamina yang turut menghambat operasional.
Dan apakah DLH Tulungagung harus menyalahkan Pertamina?
Sigit

