Di atas tanah Madura yang gersang namun kaya akan filosofi, tembakau adalah nafas di sumenep, ia bukan sekadar komoditas, melainkan martabat. Namun, belakangan ini kita menyaksikan sebuah teater kemunafikan "Pahlawan Pelindung Mafia Rokok" yang dimainkan dengan sangat rapi oleh oknum-oknum yang merasa dirinya adalah "benteng terakhir" kesejahteraan rakyat.
Dengan gagahnya, mereka berdiri melindungi pabrik-pabrik rokok ilegal, sembari membusungkan dada seolah-olah merekalah juru selamat bagi para petani dan pengangguran.
Sungguh sebuah strategi yang elegan. Menggunakan penderitaan petani kecil dan kebutuhan buruh sebagai tameng untuk menutupi praktik ilegal "rokok bodong" dan permainan pita cukai yang jelas-jelas mengangkangi hukum negara.
Sangat menggelitik ketika mendengar seseorang begitu terusik karena berisik, bahkan meradang, saat rekan-rekan jurnalis atau aktivis LSM menyuarakan kebenaran tentang peredaran rokok tanpa pita cukai. Pertanyaan mendasarnya sederhana, Jika Anda memang berdiri di atas kebenaran, mengapa harus merasa terbakar saat api fakta mulai menyala?
Lebih memprihatinkan lagi ketika kritik dibalas dengan cacian Istilah "Lapor Sudah Makan" dilemparkan untuk merendahkan institusi kontrol sosial. Ini adalah gaya klasik seseorang yang kehilangan argumen logis lalu beralih menyerang pribadi.
Menuduh aktivis sebagai serigala yang hanya "menggonggong" saat lapar adalah cermin dari cara berpikir yang sangat dangkal. Aktivis bukan sedang mencari makan di meja Anda; mereka sedang memastikan tidak ada pencuri yang memakan hak negara di balik meja tersebut.
Dunia hari ini menyaksikan tiga versi satu wajah protagonis Palsu manusia yang sedang berakting bak anak kecil dalam kemelut kepentingan rokok ilegal ini
1'Mereka ahli penjerit yang berteriak paling kencang hanya karena tidak mendapat "kue kepentingan" atau jatah upeti yang sesuai harapan.
2-Mereka yang akan menghina siapa pun yang berani menyentuh zona nyamannya. Baginya, kritik adalah ancaman terhadap aliran dana, bukan sebuah masukan untuk perbaikan.
3-Versi Manipulator yang paling berbahaya. Mereka yang menuding orang lain sebagai penjahat atau "tak punya nurani" agar praktik ilegal para pemberi upeti bulanan tidak tercium. Mereka berlindung di balik narasi "mengurangi pengangguran" untuk membenarkan pabrik yang secara fisik ada, namun secara legalitas hanyalah hantu penghisap pendapatan negara.
Sangat naif jika seseorang merasa memiliki otoritas tunggal untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, seolah-olah ia adalah "Panitia Surga" yang memegang kunci kebenaran. Mengatur-atur temuan media atau mencoba membungkam suara LSM bukanlah ciri manusia bijak, melainkan ciri manusia yang sedang ketakutan.
Jangan ajari kami tentang nurani dan tanah tembakau jika nurani Anda sendiri telah dibutakan oleh angkara. Membantu rakyat tidak harus dengan cara melanggar hukum. Memberi lapangan kerja tidak harus dengan cara merampok hak negara melalui manipulasi cukai.
Jika pabrik tersebut benar-benar ingin menolong petani, mulailah dengan cara yang terhormat, bukan dengan cara bersembunyi di balik ketiak oknum pelindung yang haus upeti.
Aktivis dan media adalah cermin. Jika Anda melihat wajah yang buruk di dalam cermin tersebut, jangan cerminnya yang dipecahkan atau dihina dengan sebutan "lapar". Perbaikilah wajah dan perilaku Anda.
Sungguh naif jika kebijaksanaan seorang manusia harus mati demi membela kepentingan segelintir mafia rokok. Tanah tembakau Sumenep terlalu suci untuk dikotori oleh narasi-narasi palsu dari mereka yang pura-pura peduli rakyat, padahal sedang mengamankan isi dompet pribadi.
Ingatlah, kebenaran mungkin bisa tertunda oleh gertakan, tapi ia tidak akan pernah bisa dibungkam oleh cacian. Jangan sampai sejarah mencatat Anda bukan sebagai pahlawan petani, melainkan sebagai kacung mafia yang berlindung di balik nama rakyat.
(R. M Hendra)
Yang Lain Berpura - pura
I am what I am
