![]() |
| Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. |
Yogyakarta, kompasone.com - Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. menegaskan pentingnya menjadikan momentum Ramadhan sebagai landasan penguatan karakter sekaligus refleksi terhadap kondisi ekonomi bangsa. Hal tersebut disampaikan dalam ceramah tarawih di Masjid Syuhada, Kotabaru, Kota Yogyakarta pada Selasa (17/3) malam.
Dalam ceramah bertema “Spiritualitas Ramadhan dan Tantangan Ekonomi Bangsa”, Prof. Edy menjelaskan bahwa Ramadan merupakan Syahrul Tarbiyah atau bulan pendidikan yang membentuk kualitas spiritual dan sosial umat. Selama bulan ini, umat Islam didorong untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak membaca Al-Qur'an, serta menumbuhkan nilai disiplin, kejujuran, dan empati sosial.
Ia menekankan bahwa pesan pertama Al-Qur’an, Iqra’ (bacalah), serta kandungan QS. Al-Baqarah ayat 185 menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan dan petunjuk hidup bagi umat manusia.
Lebih lanjut, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY ini mengaitkan nilai-nilai spiritual tersebut dengan tantangan ekonomi nasional yang dinilai masih menghadapi persoalan struktural. Ia menyebut perekonomian Indonesia hingga kini masih bertumpu pada sektor primer, seperti pertanian dan pertambangan, yang kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih signifikan.
“Struktur ekonomi kita belum bertransformasi secara optimal ke sektor industri dan jasa. Hal ini menyebabkan Indonesia berpotensi terus berada dalam kategori negara berpendapatan rendah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti sejumlah indikator sosial-ekonomi, seperti angka kemiskinan yang mencapai puluhan juta penduduk, serta tingginya tingkat ketimpangan dan pengangguran. Bahkan, menurutnya, jika menggunakan standar internasional, sebagian besar masyarakat Indonesia masih berada dalam kategori rentan secara ekonomi.
Selain faktor domestik, kondisi global turut memperberat tekanan ekonomi. Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel, serta keterlibatan Amerika Serikat, dinilai berpotensi mengganggu stabilitas energi dunia, mengingat sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati Selat Hormuz.
Di sisi fiskal, Guru Besar Ilmu Ekonomi ini juga mengkritisi struktur anggaran pemerintah yang masih defisit atau “besar pasak daripada tiang”. Ia menekankan pentingnya kebijakan publik yang lebih berpihak kepada masyarakat kecil, khususnya dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Sebagai contoh, ia mengapresiasi langkah Daerah Istimewa Yogyakarta yang mulai mengalokasikan dana keistimewaan tidak hanya untuk sektor kebudayaan, tetapi juga untuk pendidikan melalui program beasiswa pendidikan tinggi sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menutup ceramahnya, Prof. Edy mengajak masyarakat untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan yang nyata. Ia mengingatkan bahwa perbaikan kondisi sosial dan ekonomi tidak akan terjadi tanpa upaya kolektif dari masyarakat itu sendiri.
“Perubahan tidak akan datang tanpa ikhtiar. Spirit Ramadhan harus menjadi kekuatan untuk memperbaiki kualitas hidup dan kondisi ekonomi kita ke depan,” pungkasnya.
Bhenu
