Sosok yang mewarisi ketampanan paras sekaligus keluhuran jiwa dari almarhumah ibundanya, Hj. Ainun, ini tampil sebagai penyejuk bagi hati mereka yang didera kekurangan. Langkah kakinya yang tegap tidak menyisir karpet merah panggung politik, melainkan menapak di gang-gang sempit tempat para yatim dan kaum duafa menaruh harapan.
Dalam sebuah pertemuan yang penuh kekhidmatan saat menyantuni 3.000 anak yatim baru-baru ini, Ali Zainal Abidin menyampaikan sebuah maklumat jiwa yang menggetarkan nurani. Dengan suara yang rendah hati namun berwibawa, beliau menegaskan bahwa segala darma baktinya bukanlah anak tangga menuju singgasana birokrasi maupun kekuasaan duniawi.
"Tiada sebersit pun niat di hati ini untuk menjadi penguasa. Langkah ini hanyalah ikhtiar kecil untuk menjalankan risalah suci yang diajarkan Baginda Rasulullah SAW. Harapan hamba hanyalah satu: kelak dapat bernaung di bawah syafaat Beliau di surga-Nya yang abadi," tutur beliau dengan penuh ketulusan.
Bak hujan yang membasahi tanah gersang, yayasan Bani Insan Peduli (BIP) di bawah bimbingan beliau kembali menebarkan jala kasih pada Selasa sore (10/03/2026). Sebanyak 6.000 paket santunan disalurkan kepada mereka yang sering kali terabaikan oleh riuh rendahnya zaman.
Mulai dari saudara-saudara kita penyandang disabilitas, pejuang kebersihan (pasukan kuning), pengemudi ojek online, hingga para janda lansia dan kaum duafa, semua merasakan hangatnya sentuhan kasih dari BIP. Bagi Ali, 6.000 paket tersebut bukanlah sekadar materi, melainkan wujud penghormatan terhadap harkat kemanusiaan.
Meski berdiri sebagai pendiri (founder), Ali tetap memosisikan dirinya sebagai khidmat bagi para relawan dan masyarakat. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh tangan-tangan tulus yang telah membantu terlaksananya agenda rutin tahunan ini.
"Kami memohon doa, semoga apa yang telah tertunai hari ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita dalam menjemput hari kemenangan Idul Fitri. Insyaallah, di tahun mendatang, kami berikhtiar untuk menyatukan seluruh simpul kebaikan ini dalam satu titik temu yang lebih besar," pungkasnya dengan senyum yang meneduhkan.
Di bawah langit Sumenep yang tenang, Ali Zainal Abidin telah membuktikan bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa tinggi ia duduk di atas takhta, melainkan seberapa rendah ia membungkuk untuk merangkul mereka yang papa.
(R. M Hendra)
