Sumenep, Kompasone.com - Jagat maya Sumenep mendadak riuh, bukan karena prestasi baru, melainkan karena fenomena "curi start" yang dianggap menggelikan. Belum juga ketuk palu, flyer ucapan selamat kepada Agus Dwi Saputra sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) terpilih sudah bertebaran di berbagai grup WhatsApp. Mulai dari entitas guru hingga khalayak umum, seolah-olah kursi panas itu sudah resmi terkunci.
Fenomena ini sontak memicu reaksi pedas. Langkah tersebut dinilai bukan sekadar euforia, melainkan strategi "penggiringan opini" yang dinilai prematur dan cenderung merendahkan wibawa bupati sebagai pemegang hak prerogatif.
Mantan Sekretaris Laskar Merah Putih (LMP) Markas Cabang Sumenep, Abraham Somad, tidak tinggal diam melihat fenomena ini. Dengan nada bicara yang santai namun menusuk ulu hati, Somad menyebut penyebaran flyer tersebut sebagai langkah politik yang "offside" dan tidak beretika.
"Ini seolah-olah penentuan kursi Sekda sudah final di tangan Agus oleh Bupati Ahmad Fauzi Wongsojudo. Cara-cara seperti ini menunjukkan ketakutan yang dibalut dengan gaya norak dan kampungan. Mengangkangi wewenang Bupati demi opini publik," cetus Somad dengan raut muka masygul.
Menurutnya, manuver ini adalah upaya monopoli opini yang sangat tidak elegan. Ia mengingatkan bahwa Bupati Sumenep adalah pemegang kebijakan tertinggi yang tidak bisa disetir oleh tekanan-tekanan visual dari pihak manapun, apalagi dengan ucapan selamat atas peristiwa yang sejatinya belum terjadi.
Somad menilai, ambisi boleh saja ada, namun jangan sampai mencederai sistem birokrasi yang seharusnya berjalan kondusif. Baginya, menyebar ucapan selamat sebelum pengumuman resmi adalah bentuk rasa percaya diri yang berlebihan dan cenderung memalukan.
"Ayolah kawan-kawan, kita ini kontrol sosial dan pendukung roda pemerintahan. Harusnya kita ciptakan suasana yang tenang dan kondusif. Boleh norak, tapi jangan kampungan!" tegas Somad menutup pembicaraan.
Drama flyer ini kini menjadi bola api di tengah masyarakat. Publik pun mulai mempertanyakan, apakah ini murni dukungan akar rumput atau justru skenario "pemaksaan kehendak" agar nama tertentu segera dilegalkan?
Yang pasti, aroma persaingan kursi Sekda Sumenep kini tak lagi sekadar soal kapasitas / kapabilitas, tapi sudah mulai merembet ke ranah psikologi massa yang sayangnya dimulai dengan langkah yang dianggap banyak pihak sebagai "lelucon birokrasi".
(R. M Hendra)
