Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Aksentuasi Prestasi | Kepala Bappeda Sumenep Menegaskan Progres Signifikan Pengentasan Kemiskinan Berbasis Multi-Pilar Strategi Nasional

Kamis, Desember 04, 2025, 17:04 WIB Last Updated 2025-12-09T01:35:45Z



Sumenep, Kompasone.com - Pemerintah Kabupaten Sumenep telah menegaskan sebuah komitmen akseleratif dalam menanggulangi isu kemiskinan, mentransformasikannya dari tantangan struktural menjadi indikator capaian kinerja yang impresif. Melalui serangkaian program strategis lintas sektor yang dirancang terstruktur dan terukur, upaya konsisten ini mulai mencatatkan progres yang signifikan, menandai sebuah efektivitas kebijakan daerah yang semakin presisi dan tepat sasaran.


Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep tahun 2025 secara eksplisit memvalidasi keberhasilan intervensi ini, mencatat penurunan persentase penduduk miskin dari 17,78% (sekitar 196,42 ribu jiwa) pada tahun sebelumnya, merosot tajam ke angka 17,02% (sekitar 188,48 ribu jiwa). Capaian ini bukan sekadar statistik, melainkan sebuah episentrum kuat bahwa arah kebijakan yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep kini berada pada lintasan kemajuan yang benar menuju peningkatan kesejahteraan masyarakat secara fundamental.


Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN.eng., tampil sebagai arsitek intelektual di balik narasi pembangunan ini. Beliau menjelaskan bahwa arah kebijakan daerah diperkuat melalui penyusunan Rencana Penanggulangan Kemiskinan Daerah (RPKD) 2025-2029.


"Dokumen RPKD ini mengadopsi sebuah pendekatan multidimensi, mengakui bahwa kemiskinan tidak boleh tereduksi hanya pada aspek disparitas pendapatan, namun juga secara intrinsik terkait erat dengan defisit akses terhadap layanan dasar esensial, seperti pendidikan, kesehatan, dan ketersediaan air bersih," tegas Dr. Arif Firmanto dengan artikulasi yang meyakinkan.


Pemkab Sumenep secara fundamental dan holistik mengacu pada tiga pilar strategi nasional dalam upaya pengentasan kemiskinan, yang diimplementasikan secara terpadu dan inklusif:

Pilar I Mengurangi Beban Pengeluaran (Cost of Living)

Fokus utama adalah meringankan tekanan ekonomi melalui program transfer fiskal terarah (PKH, Program Sembako, Beasiswa), jaminan kesehatan melalui Universal Health Coverage (UHC), rehabilitasi struktural Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), serta subsidi transportasi yang eksklusif untuk mobilitas di wilayah kepulauan.

Pilar II Peningkatan Kapasitas Ekonomi (Economic Empowerment)

Strategi ini berorientasi pada katalisasi kemandirian ekonomi. Hal ini diejawantahkan melalui intensifikasi pelatihan keterampilan kerja berbasis demand-side, fasilitasi akses permodalan mikro (KUR), pengembangan sektor produktif hilirisasi (pertanian dan perikanan), serta program padat karya yang diikatkan pada peningkatan infrastruktur.

Pilar III Peningkatan Akses Layanan Dasar dan Infrastruktur

Diarahkan pada akselerasi pembangunan afirmatif di wilayah tertinggal. Sebuah inovasi pivotal adalah optimalisasi alokasi 20% Dana Desa (DD) untuk ketahanan pangan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Model ini terbukti menjadi model efektif yang tidak hanya menstabilkan pangan lokal, tetapi juga menciptakan lapangan kerja produktif di grassroot level.


Lebih lanjut, Dr. Arif Firmanto menyoroti inisiatif krusial dalam pengembangan sistem data terpadu melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). "Inisiatif data-centric ini adalah kunci epistemik kami," jelas beliau. "Hal ini krusial untuk menjamin presisi intervensi program dan akuntabilitas pemantauan yang maksimal, sehingga setiap rupiah anggaran benar-benar termaterialisasi menjadi kesejahteraan."


Melalui koordinasi yang sinergis lintas perangkat daerah, pemerintah desa, dan partisipasi komunitas yang proaktif, komitmen Pemkab Sumenep diposisikan untuk terus diperkuat. Dengan inovasi programatik yang berorientasi masa depan, penguatan basis data yang reliabel, dan kolaborasi pentahelix yang berkelanjutan, Pemkab Sumenep optimistis secara terukur mampu mempercepat laju penurunan angka kemiskinan, demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang merata dan bermartabat, di wilayah daratan maupun arsipelago kepulauan yang menjadi kekayaan daerah.

(R. M Hendra )

Iklan

iklan