Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Dari Mega Mendung hingga Ciwaringin, Pelajar Cirebon Diajak Menjaga Batik di Tengah Derasnya Arus Digital

Jumat, Oktober 02, 2026, 01:04 WIB Last Updated 2026-10-01T18:05:25Z

 


Cirebon, kompasone.com – Di tengah layar gawai yang tak pernah benar-benar padam, Pemerintah Kabupaten Cirebon mencoba mengajak generasi muda kembali menatap sesuatu yang lahir jauh sebelum era digital: batik.


Bukan sekadar kain dengan warna dan motif, batik menjadi pintu masuk bagi para pelajar untuk mengenali kembali jejak sejarah dan kebudayaan daerahnya.


Upaya itu dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon melalui rangkaian kegiatan kebudayaan yang dipusatkan di Museum Pangeran Cakrabuana Cirebon, Kamis (1/10/2026).


Salah satu kegiatan yang digelar adalah lomba melukis dan mewarnai motif batik Cirebon bagi pelajar tingkat SMP se-Kabupaten Cirebon.


Puluhan tangan muda diajak berkenalan dengan ragam motif batik yang selama ini menjadi bagian dari identitas budaya Cirebon. Mereka tidak hanya berhadapan dengan kertas, warna, dan garis, tetapi juga dengan cerita yang tersimpan di balik setiap motif.


Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon Fajar Sutrisno melalui Kepala Bidang Kebudayaan R. Moh. Al Bana mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara mengenalkan warisan budaya dan sejarah batik khas Cirebon kepada generasi muda.


"Tujuannya untuk mengenalkan warisan budaya dan sejarah batik khas Cirebon kepada generasi muda," kata Al Bana.



Batik Cirebon memiliki beragam motif yang lahir dari perjalanan panjang kebudayaan masyarakatnya. Di antaranya Mega Mendung, Singa Barong, Paksinaga Limang, Taman Teratai, Patran Keris, Wadasan, Sawat Pengantin, hingga Ciwaringin Bangau.


Mega Mendung, misalnya, dikenal melalui bentuk awan yang menjadi salah satu ikon visual batik Cirebon. Sementara Singa Barong, Paksinaga Limang, dan motif lainnya membawa karakter serta simbol yang berbeda.


Di tangan para pelajar, motif-motif tersebut kemudian diterjemahkan melalui sapuan warna. Ada yang memilih warna berani, ada pula yang mempertahankan karakter warna tradisional.


Museum Pangeran Cakrabuana pun menjadi ruang pertemuan antara generasi muda dan benda-benda budaya. Bersamaan dengan lomba, Disbudpar Kabupaten Cirebon juga menggelar pameran koleksi budaya museum.


Para pelajar tidak hanya diajak melihat warisan masa lalu sebagai benda yang disimpan di balik ruang museum. Mereka didorong untuk memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang masih dapat disentuh, dipelajari, dan dikembangkan.


Bagi Disbudpar Kabupaten Cirebon, lomba tersebut bukan sekadar agenda tahunan atau kegiatan seremonial.


Ada persoalan yang lebih besar di belakangnya: bagaimana membuat batik tetap memiliki tempat di hati generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan budaya digital.


Disbudpar Kabupaten Cirebon menyatakan akan terus mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian batik dan keberlangsungan para pelakunya.


Al Bana mengatakan, inovasi menjadi bagian penting agar tradisi membatik tidak kehilangan generasi penerus.


"Ini merupakan usaha Pemkab Cirebon melalui Disbudpar untuk mengajak generasi muda terlibat kembali dalam kegiatan membatik," ujarnya.


Menurut dia, pengenalan batik kepada pelajar menjadi salah satu langkah untuk menumbuhkan kembali minat generasi muda terhadap kebudayaan daerah.


Sebab, warisan budaya tidak cukup hanya disimpan. Ia harus dikenalkan, diceritakan, disentuh, lalu diwariskan kembali.


Di Museum Pangeran Cakrabuana, Kamis itu, cerita tersebut dimulai dari selembar bidang gambar dan warna-warni yang berada di tangan para pelajar.


Dari sana, harapannya sederhana: agar Mega Mendung tidak berhenti sebagai nama motif, agar Ciwaringin tidak sekadar menjadi corak, dan agar tradisi membatik tetap menemukan tangan-tangan baru ketika zaman terus bergerak.


Juri lomba melukis/mewarnai motif batik Cirebon tingkat SMP yaitu Dr. Casta, S.Pd., M.Pd., Lilis Katura, dan Bahendi.


Penyelenggara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon.


Kegiatan Pameran koleksi budaya Museum Pangeran Cakrabuana dan Lomba Melukis/Mewarnai Motif Batik Cirebon tingkat SMP/pelajar se-Kabupaten Cirebon.


[tohirakmal]

Iklan

iklan