Pandeglang, kompasone.com– Suara gesekan daun pandan yang dianyam menjadi tikar masih terdengar dari sejumlah rumah warga di Kampung Cikiray, Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Di tengah perkembangan zaman dan maraknya produk rumah tangga berbahan plastik, warga setempat tetap mempertahankan keterampilan menganyam tikar pandan yang diwariskan secara turun-temurun sejak puluhan tahun lalu.
Bagi masyarakat Kampung Cikiray dan sekitarnya, menganyam bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Kerajinan tersebut telah menjadi salah satu sumber penghasilan sekaligus bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Aktivitas menganyam bahkan dapat ditemui hampir di setiap rumah. Keterampilan tersebut dikuasai berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, remaja putri hingga warga lanjut usia.
Proses pembuatan tikar masih dilakukan secara tradisional. Daun pandan berduri yang menjadi bahan baku diperoleh dari kebun maupun kawasan pinggiran sungai. Daun tersebut kemudian melalui sejumlah tahapan pengolahan sebelum akhirnya dianyam menjadi lembaran tikar.
Salah seorang pengrajin, Saripah, mengatakan tikar pandan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan tikar berbahan plastik.
Menurutnya, tikar pandan terasa lebih sejuk ketika digunakan dan memiliki daya tahan cukup lama apabila dirawat dengan baik.
“Tikar plastik itu terasa panas dan gampang sobek. Kalau tikar pandan ini adem, apalagi kalau dipakai tiduran siang hari di bale-bale. Kalau dirawat dengan baik, bisa bertahan lima sampai 10 tahun,” kata Saripah saat ditemui wartawan, Jumat (2/10/2026).
Saripah menuturkan, meskipun kini banyak produk tikar modern beredar di pasaran, permintaan terhadap tikar pandan masih tetap ada. Kondisi tersebut membuat para pengrajin terus mempertahankan produksi secara turun-temurun.
Pengrajin lainnya, Enjun, mengatakan harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu alasan produk anyaman pandan masih diminati masyarakat.
Selain memenuhi kebutuhan warga sekitar, pemasaran tikar pandan hasil produksi masyarakat Desa Bandung juga telah menjangkau sejumlah daerah di luar Pandeglang.
Pengrajin bernama Eneng mengatakan hasil kerajinan tersebut dipasarkan melalui pengepul maupun penjualan berdasarkan pesanan, termasuk secara daring.
“Pemasaran kami sudah ke luar kota, seperti Rangkasbitung, Serang, Tangerang, bahkan sampai Jakarta. Ada yang melalui pengepul dan ada juga yang berdasarkan pesanan secara online,” ujar Eneng.
Menurutnya, perluasan pasar menjadi peluang bagi para pengrajin untuk meningkatkan pendapatan sekaligus mempertahankan keberadaan kerajinan tradisional tersebut.
Kepala Desa Bandung, Wahyu Kusnadi Harja, mengatakan keberadaan ratusan pengrajin tikar pandan merupakan potensi ekonomi sekaligus kekayaan budaya yang dimiliki desanya.
Ia berharap kerajinan tersebut tidak hanya bertahan sebagai usaha rumahan, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk unggulan Desa Bandung yang memiliki pasar lebih luas.
“Kami memiliki ratusan pengrajin yang luar biasa. Ini merupakan potensi besar. Kami berharap kerajinan tikar pandan bisa menjadi ikon sekaligus produk unggulan dari Desa Bandung,” kata Wahyu.
(Ali hamzah)
