Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Arus Peti Kemas PMT Belawan dan Kuala Tanjung Naik 4 Persen Pada Semester I Tahun 2026

Kamis, Juli 30, 2026, 18:59 WIB Last Updated 2026-07-30T11:59:48Z


Medan, Kompasone.com — Arus peti kemas di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, mencatatkan pertumbuhan positif pada semester I 2026 di tengah tekanan ekonomi global dan perlambatan perdagangan internasional.


​PT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat total volume peti kemas yang ditangani di kedua pelabuhan tersebut mencapai 347.001 TEUs hingga Juni 2026, atau meningkat sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


​Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktivitas logistik dan distribusi barang di wilayah barat Indonesia masih bertahan kuat. Kinerja tersebut ditopang oleh distribusi domestik yang stabil serta mulai meningkatnya ekspor komoditas dan produk hasil hilirisasi dari sejumlah kawasan industri di Sumatera.

​Kontributor terbesar pertumbuhan berasal dari layanan peti kemas internasional di Terminal 2 Kuala Tanjung. Hingga semester I 2026, volume peti kemas internasional mencapai 19.087 TEUs, melonjak 243 persen dibandingkan periode tahun lalu. Secara keseluruhan, aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal ini juga tumbuh 9 persen menjadi 35.397 TEUs.
​Selain peti kemas, aktivitas bongkar muat barang nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung turut menunjukkan pertumbuhan masif. Volume barang nonpeti kemas tercatat mencapai 389.114 ton (naik 186 persen), mengindikasikan meningkatnya distribusi komoditas curah dan kebutuhan industri dari kawasan hinterland Sumatera.


​Sementara itu, di Terminal 1 Belawan Domestik, volume peti kemas mencapai 311.604 TEUs, naik 3 persen dibanding semester I 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan distribusi barang antar-pulau untuk kebutuhan industri dan konsumsi, serta pengiriman produk olahan dari Sumatera ke berbagai wilayah di Indonesia.

​Direktur Utama PT Prima Multi Terminal, Rudi Susanto, menyampaikan bahwa kinerja semester pertama ini menunjukkan aktivitas ekonomi di Sumatera mulai bergerak lebih baik di tengah tantangan perdagangan global.


​"Permintaan distribusi domestik masih menjadi penopang utama. Di sisi lain, kami melihat aktivitas ekspor mulai meningkat, khususnya dari sektor industri pengolahan dan komoditas," ujar Rudi.


​Ia mengakui sektor kepelabuhanan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan jaringan pelayaran internasional, pergeseran rantai pasok global, hingga dinamika geopolitik yang berdampak pada biaya logistik.


​Untuk menjaga daya saing, PMT terus menggenjot efisiensi operasional. Saat ini, rasio waktu efektif terhadap waktu sandar (effective time against berthing time / ET-BT) tercatat:

  • ​Terminal Belawan: 86,27 persen.
  • ​Terminal Kuala Tanjung (Internasional): 73,95 persen.
  • ​Terminal Kuala Tanjung (Domestik): 66,00 persen.


​Guna mempertahankan kinerja tersebut, perusahaan melakukan optimalisasi peralatan bongkar muat, penataan lapangan penumpukan, penguatan koordinasi antarterminal, serta konsistensi penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) demi mencapai target nihil kecelakaan kerja (zero accident).

​Ke depan, peran Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung dinilai semakin strategis seiring dengan pertumbuhan kebutuhan distribusi barang dan pengembangan kawasan industri di Sumatera.


​"Keandalan layanan pelabuhan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung daya saing industri. Semakin efisien proses logistik yang tersedia, semakin besar peluang pelaku usaha untuk menekan biaya distribusi dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global," tambah Rudi.


​Dengan posisi geografis yang berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka serta dukungan program hilirisasi industri, Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung diproyeksikan akan terus kokoh sebagai simpul logistik utama di wilayah barat Indonesia.



>Zoel

Iklan

iklan