Di ujung timur Pulau Garam Madura ini, kita tidak pernah kekurangan stok orang pintar. Jika kecerdasan diukur dari kemampuan berargumen atau kepiawaian "melompat" dari satu dahan politik ke pohon kepentingan lainnya, maka Sumenep adalah gudangnya. Kota ini penuh dengan intelektual yang bicaranya setinggi langit, namun sayangnya, banyak yang fondasinya serapuh kerupuk Rambak, mudah baper dan lapar akan validasi.
Fenomena "haus pengakuan" ini menjadi pemandangan unik di tengah hingar-bingar kabupaten kita. Banyak orang yang merasa paling cerdas, namun anehnya, mereka butuh stempel "pintar" dari orang lain setiap hari. Jika tidak dipuji, mereka meriang. Jika dikritik sedikit, mereka meradang.
Mari kita bicara jujur. Sumenep hari ini tidak butuh tambahan orang pintar yang hanya pandai mengelabui orang lain dan celakanya, juga pandai mengelabui diri sendiri. Kita sudah surplus pengatur strategi, tapi kita defisit orang jujur. Kita punya banyak "pemain cadangan" yang siap mengganti kostum kapan saja demi posisi yang nyaman, tapi kita kekurangan sosok yang berani berdiri di atas prinsip, meski harus berdiri sendirian.
Ibarat seorang sniper handal yang sedang jenuh, ia mencoba melepaskan tembakan acak ke berbagai arah. Tujuannya sederhana, ia ingin membuktikan pada hatinya sendiri bahwa sesekali ia bisa gagal. Ia ingin membuang kesombongan dengan menunjukkan bahwa bidikannya tak selamanya akurat. Ia menembak berlawanan arah angin, tanpa membidik, hanya melepaskan peluru ke udara kosong.
Namun, di sinilah letak ironis yang menggelitik. Meski peluru itu dilepaskan secara "nyasar" dan asal-asalan, peluru tersebut tetap saja bersarang tepat di dahi sasaran.
Pertanyaannya menjadi sangat menarik bagi kita semua. Ini penembaknya yang terlalu sakti, atau sasarannya yang memang terlalu banyak bertebaran di mana-mana sehingga sulit untuk tidak kena?
Ketika kritik dilempar secara umum, namun banyak pihak yang merasa "tertembak" dan langsung melakukan pembelaan diri yang emosional, di situlah kita melihat potret nyata masyarakat intelektual kita. Mereka yang merasa tertembak oleh "peluru nyasar" sebenarnya sedang mengonfirmasi bahwa mereka adalah sasaran yang sedang kita bicarakan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak dari rutinitas "melompat dahan". Berhenti mencari validasi, dan mulailah jujur pada cermin. Sebab, sehebat apa pun Anda bersandiwara menjadi orang bijak, peluru kebenaran bahkan yang nyasar sekalipun selalu tahu di mana alamat rumah Anda.
Oleh : R. M Hendra
(Catatan Kecil dari Sudut Sumenep)
