![]() |
| Niken Permata Sari |
Tapi kalau mau melihat dari sisi positifnya (sambil sedikit menghibur diri), mungkin ini adalah momen "tamparan" yang tepat bagi kita untuk benar-benar memulai green consumer behavior.
Kenapa Sekarang? Karena Dompet Adalah Motivator Terbaik
Mari kita bicara blak-blakan: seringkali niat untuk menjaga bumi kalah dengan rasa malas. Tapi ketika gaya hidup "nyampah" mulai menguras isi kantong, di situlah biasanya kita baru bergerak.
Menerapkan perilaku konsumen hijau saat ini bukan lagi sekadar soal gaya-gayaan atau terlihat aesthetic di media sosial, tapi sudah jadi strategi bertahan hidup yang cerdas. Ketika harga plastik naik, beralih ke alternatif yang lebih awet bukan cuma soal menyelamatkan penyu di laut, tapi juga menyelamatkan saldo di rekening.
Langkah Kecil yang "Ramah Dompet"
Kita nggak perlu langsung jadi aktivis lingkungan yang ekstrem. Mulai saja dari hal-hal yang bikin kita nggak perlu keluar uang ekstra:
Siapkan "Amunisi" di Kendaraan/Tas: Taruh tote bag lipat di motor, mobil, atau tas kerja. Jangan sampai kita harus beli kantong plastik mahal-mahal cuma karena lupa bawa wadah sendiri.
Investasi pada Barang Reusable: Mungkin beli botol minum (tumbler) atau wadah makan berkualitas terasa mahal di awal. Tapi coba hitung berapa ratus ribu yang bisa dihemat dalam setahun kalau kita nggak perlu beli air mineral botolan atau bayar biaya kemasan di ojek online.
Beli dalam Jumlah Besar (Bulk Buying): Membeli produk dengan kemasan besar atau isi ulang biasanya jauh lebih murah per gramnya dibandingkan kemasan sachet atau botol kecil yang plastiknya mahal.
Mengubah Pola Pikir: Dari "Pakai-Buang" ke "Pakai-Sayang"
Kenaikan harga ini sebenarnya mengajak kita untuk kembali ke nilai-nilai lama yang mungkin terlupakan: menghargai barang.
Green consumerism itu bukan tentang membeli barang baru yang berlabel 'ramah lingkungan', tapi tentang memaksimalkan apa yang sudah kita punya dan mengurangi apa yang benar-benar tidak perlu.
Saat kita mulai menolak plastik sekali pakai karena harganya yang mahal, secara tidak sadar kita sedang melakukan diet plastik yang selama ini sulit kita lakukan. Kita jadi lebih selektif, lebih sadar (mindful), dan akhirnya lebih peduli pada lingkungan.
Kenaikan harga plastik memang menyebalkan, tapi mari kita jadikan ini sebagai bahan bakar untuk berubah. Anggap saja ini adalah masa transisi menuju gaya hidup yang lebih bersih dan hemat.
Jadi, daripada terus mengeluh soal harga plastik yang selangit, mendingan kita bawa tas belanja sendiri, kan? Lebih gaya, lebih hemat, dan bonusnya, bumi sedikit lebih bernapas lega.
Penulis:
Niken Permata Sari
Dosen Prodi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram
