Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Buka Puasa dan Emotional Consuming

Selasa, Februari 24, 2026, 10:54 WIB Last Updated 2026-02-24T03:55:25Z
Bhenu Artha

Buka puasa merupakan momen emosional, lega, syukur, dan sering kali perayaan bersama keluarga. Namun bagi banyak orang, momen ini juga memicu emotional consuming, makan atau membeli berlebihan sebagai respons terhadap stres, kebosanan, atau kebutuhan emosional. Fenomena ini terlihat jelas selama Ramadan dan memiliki implikasi terhadap dinamika ekonomi rumah tangga. 


Emotional consuming saat buka puasa bukan sekadar kebiasaan makan. Ia adalah respons psikologis yang dipengaruhi perubahan rutinitas, tekanan sosial, dan harapan budaya terhadap hidangan istimewa. Dampaknya bersifat simultan, dalam jangka pendek memberi kepuasan emosional, tetapi jangka menengah hingga panjang dapat menimbulkan masalah kesehatan, misalnya berat badan, dan gangguan pencernaan, serta tekanan finansial rumah tangga. 


Emotional consuming dapat dilihat dari beberapa perspektif ekonomi, seperti disampaikan oleh Nabilah dan Natanael (2025). Permintaan musiman dan pengeluaran impulsif, selama Ramadan dan khususnya saat buka, permintaan untuk makanan siap saji, takjil, dan bahan makanan meningkat. Hal ini mendorong pengeluaran impulsif keluarga. Pengeluaran ekstra ini menggerus anggaran jika tidak direncanakan.   


Berikutnya terkait dengan inefisiensi dan pemborosan. Emotional consuming sering berujung pada pembelian berlebih dan sisa makanan yang terbuang, menambah biaya riil bagi rumah tangga dan mengurangi efisiensi distribusi pangan. Dan juga tentang peluang ekonomi positif bila dikelola. Jika dipahami, pola konsumsi ini bisa diarahkan ke pasar lokal (misalnya membeli takjil dari UMKM) sehingga mendukung ekonomi mikro tanpa mendorong pemborosan. 


Oleh karena itu, sebaiknya buka puasa direncanakan secara sadar, antara lain dengan menyusun menu sederhana yang seimbang; tetapkan porsi untuk setiap anggota keluarga. Ini menurunkan peluang makan berlebihan dan pemborosan.


 Berikutnya Adalah mengalihkan impuls belanja ke dukungan lokal. Apabila ingin istimewa, pilihlah membeli dari pedagang lokal dalam porsi terukur untuk mendukung UMKM tanpa adanya pemborosan. Selain itu, perlu edukasi keluarga dengan mengajarkan anak dan anggota keluarga membedakan lapar fisiologis dan keinginan emosional. Hal ini membantu keputusan makan yang lebih sehat.


Bhenu Artha

Dosen Program Studi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram Yogyakarta

Iklan

iklan