Aceh Barat, kompasone.com - Apa arti kemerdekaan jika kejujuran semakin sulit ditemukan? Apa arti persatuan jika kepentingan pribadi dan golongan masih sering mengalahkan kepentingan bersama? Dan apa arti pendidikan jika semakin banyak orang berilmu, tetapi belum tentu semakin bijaksana dalam menjalani kehidupan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari refleksi Ustadz Syamsul Kamal, Pendiri Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ) sekaligus Ketua Umum Yayasan Pusat Peradaban Insani (YPPI), dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Menurutnya, peringatan Sumpah Pemuda tidak seharusnya berhenti pada upacara, slogan, dan pengulangan ikrar sejarah. Momentum ini semestinya menjadi kesempatan untuk bercermin, menilai keadaan bangsa, sekaligus mempertanyakan tanggung jawab setiap generasi terhadap masa depan Indonesia.
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad tentang tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan. Mereka melampaui sekat-sekat perbedaan demi cita-cita yang lebih besar daripada kepentingan diri dan kelompoknya.
Kini, hampir satu abad setelah peristiwa bersejarah itu, tantangannya bukan lagi sekadar menyatukan bangsa yang belum merdeka, melainkan menjaga agar persatuan yang telah diwariskan tidak kehilangan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
“Dahulu, para pemuda bersumpah untuk menyatukan Indonesia ketika kemerdekaan belum berada dalam genggaman. Hari ini, ketika kemerdekaan telah kita nikmati, pertanyaannya adalah: apakah kita masih memiliki keberanian, ketulusan, dan pengorbanan yang sama untuk menjaga masa depan bangsa?” ungkap Syamsul Kamal.
Ketika Sumpah Diucapkan, tetapi Nilainya Belum Sepenuhnya Dihidupkan
Syamsul Kamal menilai bahwa salah satu tantangan besar bangsa saat ini adalah jarak antara nilai yang diucapkan dan perilaku yang dijalankan.
Persatuan sering digaungkan, tetapi perbedaan masih mudah berubah menjadi permusuhan. Kejujuran dihargai dalam perkataan, tetapi dalam praktiknya terkadang dikalahkan oleh kepentingan. Pendidikan terus diperjuangkan, tetapi keberhasilan akademik belum selalu sejalan dengan kematangan akhlak dan tanggung jawab sosial.
Di tengah kemajuan teknologi dan terbukanya akses informasi, persoalan korupsi, ketidakadilan, kemiskinan, serta melemahnya kepedulian terhadap sesama tetap menuntut perhatian bersama.
Menurutnya, persoalan-persoalan tersebut tidak cukup dijawab dengan kecerdasan, keterampilan, atau kemampuan bersaing. Bangsa juga membutuhkan manusia yang mampu menggunakan ilmu dan kekuasaannya secara bertanggung jawab.
“Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi muda yang cerdas, tetapi juga yang berintegritas. Tidak hanya membutuhkan mereka yang berani berbicara tentang perubahan, tetapi juga yang bersedia memulai perubahan dari dirinya sendiri,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa bangsa tidak cukup dibangun oleh orang-orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Bangsa membutuhkan manusia yang bersedia melakukan kebaikan, bahkan ketika tidak ada yang melihat, memuji, atau memberikan penghargaan.
Sebab, persoalan bangsa tidak selalu bermula dari kurangnya pengetahuan. Terkadang, persoalan justru muncul ketika seseorang mengetahui apa yang benar, tetapi memilih melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri.
Indonesia Tidak Hanya Membutuhkan Orang Pintar, tetapi Manusia yang Berintegritas
Dalam pandangannya, pendidikan memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan lulusan, gelar, atau tenaga kerja yang kompeten.
Pendidikan semestinya membantu manusia mengenali dirinya, memahami tanggung jawabnya, menghargai sesama, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan pendidikan kehidupan yang dikembangkan melalui Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ), sebuah gerakan pembelajaran yang memandang bahwa kehidupan itu sendiri merupakan ruang belajar.
Belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di dalam keluarga, masyarakat, alam, pengalaman, bahkan melalui kesalahan yang mendorong seseorang untuk memperbaiki diri.
Dalam pendekatan ini, setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar sekaligus berbagi pengalaman. Pengetahuan tidak berhenti sebagai sesuatu yang dipahami oleh pikiran, tetapi diharapkan tumbuh menjadi kesadaran yang membentuk sikap dan tindakan.
“Ilmu seharusnya tidak berhenti di kepala. Ia perlu membentuk kesadaran, memperhalus akhlak, dan hadir dalam perbuatan. Sebab, pengetahuan yang tidak ikut memperbaiki perilaku akan kehilangan sebagian besar manfaatnya bagi kehidupan,” tuturnya.
Ia menambahkan, perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau pembangunan fisik yang megah. Perubahan dapat bermula dari orang tua yang memberi keteladanan, guru yang mendidik dengan kesungguhan, pemuda yang jujur dalam bekerja, serta masyarakat yang tidak membiarkan ketidakadilan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Membangun Peradaban Tidak Cukup dengan Mengubah yang Terlihat
Syamsul Kamal berpandangan bahwa pembangunan bangsa perlu memberi perhatian seimbang terhadap kemajuan material dan kualitas manusia.
Jalan dapat dibangun, gedung dapat didirikan, teknologi dapat dikembangkan, dan berbagai program dapat dilaksanakan. Namun, keberlanjutan manfaat pembangunan tetap bergantung pada manusia yang mengelola dan menggunakannya.
Tanpa integritas, kemajuan dapat menjadi sarana memperbesar kesenjangan. Tanpa kepedulian, keberhasilan dapat dinikmati segelintir orang. Tanpa tanggung jawab, kekuasaan dapat menjauh dari tujuan pengabdian.
Karena itu, membangun peradaban pada hakikatnya juga berarti membangun kesadaran, akhlak, keadilan, dan tanggung jawab manusia.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari pandangannya dalam mengembangkan AKQ sebagai gerakan pendidikan kehidupan, sekaligus dalam menjalankan amanah di Yayasan Pusat Peradaban Insani (YPPI) yang membawa semangat Membangun Manusia, Menumbuhkan Peradaban.
AKQ dan YPPI berada dalam satu ikhtiar yang saling melengkapi: menumbuhkan kesadaran manusia sebagai bagian penting dari upaya membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Namun, menurutnya, cita-cita tersebut tidak akan bermakna jika hanya menjadi gagasan yang indah dalam tulisan.
“Peradaban tidak hanya dibangun dengan mendirikan sesuatu di luar diri manusia. Kita juga harus membangun kejujuran, kepedulian, kebijaksanaan, dan tanggung jawab di dalam diri manusia. Sebab, sebesar apa pun kemajuan yang terlihat, kualitas kehidupan tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang menjalaninya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut bukan hanya milik pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, atau tokoh tertentu. Setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya.
Pemuda Tidak Harus Menunggu Menjadi Besar untuk Mengubah Keadaan
Dalam refleksinya, Syamsul Kamal mengajak generasi muda agar tidak mengukur kontribusi hanya berdasarkan jabatan, popularitas, kekayaan, atau besarnya pengaruh yang dimiliki.
Pemuda yang membantu anak-anak belajar, mengembangkan literasi, membangun usaha secara jujur, menjaga lingkungan, memperkuat solidaritas sosial, atau mencari solusi bagi persoalan di desanya telah mengambil bagian dalam pembangunan bangsa.
Kontribusi tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Yang lebih penting adalah kesediaan untuk memulai, keteguhan menjaga nilai, dan konsistensi menghadirkan manfaat.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang sehat. Namun, perbedaan seharusnya menjadi jalan untuk memperkaya pemikiran, bukan alasan untuk merusak persaudaraan.
“Bangsa ini tidak membutuhkan semua orang berpikir dengan cara yang sama. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang berbeda pemikiran, tetapi tetap mampu bekerja sama untuk kebaikan bersama. Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan menjaga agar perbedaan tidak menghancurkan kemanusiaan kita,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda perlu memiliki keberanian untuk bersikap kritis, tetapi juga kesediaan untuk mendengar. Berani menyampaikan kebenaran, tetapi tetap menghormati sesama. Mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat tanpa kehilangan integritas dan kemanusiaan.
Jangan Sampai Anak Cucu Kita Hanya Mewarisi Cerita Perjuangan
Menutup refleksinya, Syamsul Kamal mengajak masyarakat menjadikan Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk memperbarui komitmen terhadap Indonesia.
Setiap generasi memiliki tantangan dan medan perjuangannya sendiri. Jika para pendahulu berjuang menyatukan bangsa dan merebut kemerdekaan, generasi hari ini memiliki tanggung jawab menjaga persatuan, memperkuat keadilan, membangun kualitas manusia, serta memastikan kemajuan membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Ia mengingatkan bahwa generasi mendatang tidak hanya membutuhkan cerita tentang betapa hebatnya perjuangan para pendahulu. Mereka juga membutuhkan keteladanan dari generasi yang hidup pada hari ini.
“Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mengenang kita sebagai generasi yang mewarisi kemerdekaan, tetapi gagal mewariskan keteladanan. Para pemuda 1928 meninggalkan sejarah karena keberanian mereka menyatukan tekad. Tugas kita hari ini adalah membuktikan bahwa persatuan itu masih hidup melalui tindakan,” tuturnya.
Baginya, kecintaan terhadap Indonesia tidak cukup dibuktikan melalui kata-kata, simbol, atau kebanggaan terhadap masa lalu. Kecintaan itu perlu hadir dalam kejujuran, kepedulian, kesediaan mengabdi, dan keberanian memperbaiki keadaan.
Ia mengajak generasi muda untuk mulai dari hal-hal yang dapat dilakukan sekarang: menjaga amanah, menghargai perbedaan, menggunakan ilmu untuk kebaikan, tidak mengambil hak orang lain, serta tidak berpaling ketika melihat sesama membutuhkan pertolongan.
Pada akhirnya, peringatan Sumpah Pemuda bukan hanya kesempatan untuk mengenang keberanian generasi masa lalu, melainkan juga kesempatan untuk menguji keberanian generasi hari ini.
Sebab, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah bersumpah, tetapi juga akan menilai bagaimana nilai-nilai yang disumpahkan itu dijalankan.
“Sumpah Pemuda bukan sekadar tentang bagaimana Indonesia dipersatukan pada masa lalu, tetapi tentang bagaimana kita menjaga persatuan, membangun manusia, dan menumbuhkan peradaban pada hari ini. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita sumpahkan, tetapi oleh apa yang berani kita lakukan setelah sumpah itu diucapkan.”
Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Bersatu dalam cita-cita, berintegritas dalam tindakan, dan mengabdi untuk Indonesia.
Ustadz Syamsul Kamal
Pendiri Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ)
Ketua Umum Yayasan Pusat Peradaban Insani (YPPI)
(Raja)
