Bintan, kompasone.com – Kantor Administrator Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang menggelar rapat yang menghadirkan perwakilan Kementerian ESDM Mineral Pusat serta sejumlah instansi dan pihak terkait, pada Kamis (22‑10‑2026) pukul 08.00 WIB di Kantor Administrator GBKEK Galang Batang.
Rapat dihadiri oleh perwakilan Direktorat Teknis Kementerian ESDM Pusat, Bea Cukai, Dinas Pertambangan Provinsi, Dinas BLH Provinsi, perusahaan tambang PT BAI, Camat Gunung Kijang, serta perwakilan Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju (IGVIM). Diskusi berfokus pada rencana pengembangan industri di kawasan GBKEK Galang Batang.
Rulli, Kepala Bidang Pengawasan dan Pengembangan GBKEK, menyampaikan rencana tahap kedua untuk mengajak pelaku UMKM membentuk sentra industri baru guna memanfaatkan hasil‑hasil riset.
Salah satu usulan adalah kerja sama riset yang akan diajukan Kementerian ESDM Pusat ke Badan Pangan Nasional (BAPANAS), dengan target pengolahan mineral yang nantinya dapat diterapkan di wilayah penghasil mineral seperti Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, hingga Bangka Belitung, dengan Kepri sebagai wilayah perintis.
Pengembangan tersebut mencakup hilirisasi aluminium menjadi batangan yang dapat digunakan untuk bodi pesawat maupun kendaraan bermotor secara bertahap.
Perwakilan Balai Kajian Mineral dan Batubara Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Pusat, Muliadi, menjelaskan tim sedang meneliti cara menetralkan material basah yang bersifat korosif dari hasil pengolahan.
![]() |
| Muliadi, Perwakilan Balai Kajian Mineral dan Batubara Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM |
Penelitian juga mencakup pemanfaatan emisi CO₂ dari industri pembakaran kapur di PT BAI untuk proses netralisasi, dengan pengawasan batas volume serta pemantauan stabilitas nilai pH dalam jangka panjang.
Selain itu dibahas proses pencucian bauksit menggunakan ayakan dan penggunaan soda api untuk menghasilkan alumina serta turunan aluminium, dengan dukungan pabrik pendukung yang sudah ada di kawasan tersebut.
Sementara itu, Ketua IGVIM Fitrinaldi, M.Pd., menyampaikan pihaknya diundang untuk menyelaraskan pandangan terhadap kajian pemanfaatan lumpur merah (red mud) di kawasan Galang Batang.
Pemanfaatan red mud menjadi bahan industri dan pigmen diharapkan dapat menerapkan prinsip ekonomi sirkular, meningkatkan nilai tambah limbah industri, serta memperhatikan aspek keselamatan, sosial‑ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Selain itu, dibahas pula penyelarasan kompetensi lulusan SMK dan perguruan tinggi vokasi dengan kebutuhan tenaga kerja bidang pengolahan mineral, pengujian laboratorium, pengendalian mutu, pengelolaan lingkungan dan teknologi proses industri.
(Perwakilan Kepri, Handoko)

