Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Bukan Sekadar Mengaji, AKQ Bangun Budaya Baca dan Kesadaran Diri dari Aceh Barat

Sabtu, Oktober 24, 2026, 17:11 WIB Last Updated 2026-10-24T10:12:15Z

 


MEULABOH, kompasone.com - Di tengah upaya memperkuat budaya literasi dan kualitas sumber daya manusia, Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ) terus menghidupkan gerakan belajar berbasis masyarakat melalui program Beut Droe (Ngaji Diri) dan Gerakan 15 Menit Membaca di kawasan Tugu Teuku Umar, Batee Puteh, Kabupaten Aceh Barat.


Gerakan ini menghadirkan pendekatan belajar yang menghubungkan literasi, nilai Qur’ani, dan pembentukan karakter masyarakat.


Kegiatan rutin mingguan ini menawarkan pendekatan yang memadukan kebiasaan membaca, pengkajian keislaman, diskusi, dan refleksi diri. Bagi AKQ, membaca bukan sekadar aktivitas mengenali tulisan atau menambah pengetahuan, melainkan juga jalan untuk memperluas pemahaman dan menumbuhkan kesadaran dalam menjalani kehidupan.


Pendekatan tersebut relevan dengan arah pembangunan nasional. Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 menempatkan penguatan sumber daya manusia, pendidikan, dan karakter sebagai bagian penting agenda pembangunan. Pemerintah juga terus mendorong penguatan budaya literasi melalui Gerakan Literasi Nasional. "https://www.perpusnas.go.id/berita/penguatan-budaya-literasi-jadi-instrumen-penting-pembangunan-manusia-berkelanjutan" (https://www.perpusnas.go.id/berita/penguatan-budaya-literasi-jadi-instrumen-penting-pembangunan-manusia-berkelanjutan)


Membaca Sendiri, Memahami Lebih Dalam


Salah satu hal yang membedakan kegiatan Beut Droe adalah metode membaca langsung yang diterapkan kepada setiap jamaah.


Peserta tidak hanya datang untuk mendengarkan ceramah. Mereka membaca sendiri kitab Kasyaf Sejati dalam bahasa Indonesia, kemudian mendalami isinya bersama pemateri.


Melalui metode ini, jamaah memperoleh kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan bacaan, memahami pesan yang disampaikan, serta merenungkan hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Pendalaman dan penarikan kesimpulan dilakukan bersama pemateri agar pemahaman peserta lebih terarah.


Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa proses belajar perlu melibatkan pembaca secara aktif. Mendengarkan penjelasan merupakan salah satu cara memperoleh ilmu, sedangkan membaca sendiri memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menelusuri gagasan, berhenti sejenak pada bagian yang menyentuh pikirannya, dan melakukan perenungan.


Dalam konteks Beut Droe, proses tersebut tidak berhenti pada kecakapan intelektual. Jamaah juga diajak menjadikan pengetahuan sebagai bahan muhasabah untuk mengenali diri dan memperbaiki perilaku.


Lima Ayat, Lima Hadis, dan Gerakan 15 Menit Membaca


Selain membaca kitab, kegiatan rutin AKQ juga diisi dengan pembacaan lima ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya dan lima hadis. Peserta kemudian mengikuti sesi berbagi pengalaman, diskusi, dan tanya jawab.


Gerakan 15 Menit Membaca menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut. Program ini membiasakan peserta menyediakan waktu khusus untuk membaca buku dan memperluas wawasan.


Dengan menggabungkan literasi dan pengajian, AKQ berupaya membangun tradisi belajar yang tidak terbatas pada ruang kelas formal. Masyarakat dapat terus belajar melalui majelis, bacaan, dialog, dan pengalaman hidup.


Semangat ini sejalan dengan pandangan pemerintah bahwa penguatan literasi merupakan salah satu fondasi pembangunan manusia dan peradaban bangsa. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga telah menyiapkan peta jalan Gerakan Literasi Nasional periode 2026–2029 untuk memperkuat budaya literasi secara terintegrasi dan berkelanjutan. "https://www.kemendikdasmen.go.id/berita/14465-kemendikdasmen-siapkan-peta-jalan-untuk-perkuat-gerakan-literasi-nasional" (https://www.kemendikdasmen.go.id/berita/14465-kemendikdasmen-siapkan-peta-jalan-untuk-perkuat-gerakan-literasi-nasional)


Pengajian Beut Droe, Minggu 25 Oktober 2026

Program mingguan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada:

Hari/Tanggal: Minggu, 25 Oktober 2026

Waktu: Pukul 08.00–10.00 WIB

Tempat: Tugu Teuku Umar, Batee Puteh, Kabupaten Aceh Barat.


Pada kesempatan tersebut, Ustadz Syamsul Kamal dijadwalkan mengkaji kitab Kasyaf Sejati, sedangkan Tgk. Asy’ari Mukhtar Harib, M.A., akan membahas kitab Kasyful Ghaibiyah.


Kedua kajian tersebut menjadi bagian dari upaya memperdalam pengetahuan keislaman, memahami pembinaan batin, dan menghubungkan ilmu dengan pembentukan akhlak.


Kegiatan ini terbuka bagi masyarakat umum yang ingin belajar, membaca, berdiskusi, dan memperdalam pemahaman agama dalam suasana kebersamaan.


Membangun Manusia, Bukan Sekadar Menyelenggarakan Kegiatan


Bagi AKQ, keberhasilan sebuah majelis ilmu tidak semata-mata diukur dari banyaknya peserta atau panjangnya materi yang disampaikan. Hal yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kebiasaan belajar, bertambahnya pemahaman, dan munculnya kesadaran untuk memperbaiki diri.


Semangat tersebut sejalan dengan gagasan pendidikan karakter yang menempatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan berbagai lembaga sebagai bagian dari ekosistem pembentukan manusia. Pembangunan karakter tidak dapat dibebankan kepada satu institusi saja, tetapi memerlukan keterlibatan berbagai pihak. "https://kemenkopmk.go.id/pemerintah-tata-ulang-pendidikan-karakter-bangsa" (https://kemenkopmk.go.id/pemerintah-tata-ulang-pendidikan-karakter-bangsa)


Karena itu, gerakan literasi berbasis masyarakat seperti yang dijalankan AKQ berpotensi menjadi ruang kolaborasi antara komunitas, pemerintah, lembaga pendidikan, perpustakaan, organisasi kepemudaan, dan para pegiat literasi.


Kolaborasi tersebut dapat memperluas manfaat kegiatan, mulai dari peningkatan kebiasaan membaca hingga penguatan karakter dan hubungan sosial masyarakat.


AKQ juga mengajak masyarakat untuk memandang majelis ilmu sebagai ruang belajar sepanjang hayat, tempat setiap orang memiliki kesempatan untuk membaca, bertanya, berbagi pengalaman, dan memperbaiki diri.


Semangat kegiatan ini terangkum dalam slogan, “Perbaiki Shalatmu, Allah akan Perbaiki Hidupmu.”


Dari Aceh Barat untuk Budaya Belajar yang Lebih Luas


Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ) merupakan wadah pembinaan dan pembelajaran masyarakat yang berfokus pada pengkajian nilai-nilai Al-Qur’an, penguatan spiritualitas, pengembangan literasi, dan pembentukan karakter.


Dalam menjalankan kegiatannya di Kabupaten Aceh Barat, AKQ mendapat dukungan dari Yayasan Pusat Peradaban Insani (YPPI), yang bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, literasi, dan pemberdayaan masyarakat.


Melalui Beut Droe dan Gerakan 15 Menit Membaca, AKQ berupaya menunjukkan bahwa penguatan kualitas manusia dapat dimulai dari langkah sederhana: menyediakan waktu untuk membaca, membuka ruang diskusi, dan menjadikan ilmu sebagai bahan perbaikan diri.


Sebab, membangun peradaban tidak cukup hanya dengan mendirikan bangunan atau memperbanyak kegiatan. Peradaban juga tumbuh ketika manusia mau belajar, mampu berpikir, memiliki akhlak, dan bersedia memperbaiki dirinya.


(Raja)

Iklan

iklan