Ciamis, kompasone.com -Euforia habisnya tiket pertandingan PSGC Ciamis berubah menjadi kekecewaan. Tiket yang dinyatakan sold out di penjualan resmi, baik daring maupun luring, ternyata masih beredar di tangan calo dengan harga melambung hingga Rp60 ribu sampai Rp80 ribu.
Fakta itu memunculkan pertanyaan besar soal efektivitas sistem pembelian tiket yang mewajibkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Pemerhati sepak bola Ciamis dan pendukung setia Laskar Singacala, Gian Henuk yang akrab disapa Barmex, menjadi salah satu yang merasakan langsung persoalan ini.
Awalnya ia justru bangga. Sold out dianggap sebagai bukti cinta masyarakat Tatar Galuh kepada PSGC sangat besar.
Untuk nonton, Barmex meminta bantuan temannya. Syaratnya, harus melampirkan NIK. Ia pun mengirimkan foto Kartu Keluarga.
"Teman saya bilang bisa, tetapi harus pakai NIK. Oke, saya kirim kartu keluarga saya," cerita Barmex.
Namun saat temannya datang ke loket, jawabannya sudah habis.
Kebanggaan itu tak bertahan lama. Temannya kemudian mengabari, tiket masih ada, tapi lewat calo.
"Lamun arek paling aya di calo bro, ngan hargana rupa-rupa, aya nu 60 nepi ka 80," kata Barmex menirukan pesan temannya dalam bahasa sunda.(Kalau mau paling ada di calo bro,tapi harganya macam macam,ada yang 60 ribu sampai 80 ribu)
"Kebanggaan saya atas habisnya tiket langsung hilang," ujarnya.
Di sinilah pertanyaan itu muncul. Jika beli tiket harus pakai NIK untuk mencegah percaloan, bagaimana calo bisa dapat tiket banyak?
"Karena merasa heran, kok masih keneh aya nya nu jadi calo, padahal meli tiket kudu make NIK. Ieu calo make NIK batur atawa kumaha sih bisa meunang tiket loba?"tanya Barmex.(Kok masih ada yang menjadi calo padahal beli tiket harus pake NIK,ini calo pakai NIK orang lain atau bagaimana sih bisa dapat tiket banyak?)
Barmex meminta Panitia Pelaksana (Panpel) PSGC tidak diam dan segera menjelaskan celah tersebut agar tidak menjadi bola liar.
"Jangan sampai masyarakat berasumsi liar, berpikiran bahwa ada kesengajaan dalam hal ini untuk mendapat keuntungan lebih," katanya.
Ia juga mengingatkan risiko penyalahgunaan data pribadi jika calo benar-benar memakai NIK orang lain.
"Setahu saya kalau menyalahgunakan data pribadi orang lain itu adalah perbuatan melanggar hukum. Kalau calo bisa mendapatkan tiket dengan cara menggunakan data pribadi orang lain, tolong tangkap calonya. Kalau calonya dapat dari panitia, tangkap juga panitianya," tegas Barmex.
Barmex menilai Panpel perlu berbenah. Ia mengusulkan agar distribusi tiket menggandeng kelompok suporter resmi yang sudah memiliki data anggota valid seperti Balad Galuh, Siih Galuh, Baraya Galuh, Galuh Curva Sud (GCS) hingga Ultras.
Menurutnya, cara itu lebih tertib dan adil.
"Kenapa tidak, Panpel menjalin kerja sama dengan pendukung resmi PSGC yang sudah jelas memiliki data valid anggota," ujarnya.
Barmex mengingatkan, pemasukan klub dari tiket memang penting, tapi jangan sampai mengorbankan suporter yang memiliki keterbatasan waktu dan teknologi.
"JANGAN sampai, karena polemik tiket para pendukung terhambat untuk memberikan dukungan pada tim kebanggaan. Jangan hanya fokus cari cuan saja, pikirkan juga nasib pendukung setia PSGC," pungkasnya.
(AL)

