Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Road to Jogja Halal Fest #3 Internasional 2026, UMKM Didorong Naik Kelas melalui Penguatan Manajemen Bisnis

Senin, September 21, 2026, 13:14 WIB Last Updated 2026-09-21T06:14:46Z

 


Yogyakarta, kompasone.com - Penguatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi dan industri halal yang berkelanjutan. Hal tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Road to Jogja Halal Fest #3 Internasional 2026 melalui agenda penguatan kapasitas UMKM bertajuk “Manajemen Bisnis Praktis UMKM” yang digelar pada Minggu, 20 September 2026 di Kalurahan Kadipaten.


Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju penyelenggaraan Jogja Halal Fest (JHF) #3 Internasional Tahun 2026 yang akan berlangsung pada 4–6 Desember 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta.


Melalui agenda tersebut, pelaku UMKM tidak hanya didorong untuk meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperkuat kemampuan dalam mengelola bisnis secara lebih terstruktur, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga pemanfaatan teknologi digital.


Materi “Manajemen Bisnis Praktis UMKM” yang disampaikan oleh Ketua Departemen Pengembangan UMKM dan Keuangan Sosial MES DIY Dr. Jumadi, S.E., M.M. memberikan perspektif bahwa keberlanjutan UMKM tidak cukup hanya ditopang oleh kemampuan menghasilkan dan menjual produk. Pelaku usaha juga perlu memiliki fondasi manajemen yang mampu menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus membuka ruang bagi pertumbuhan usaha.


Dalam pemaparannya, peserta diperkenalkan pada perbedaan antara sekadar “jualan” dan membangun “bisnis”. Penekanan tersebut menjadi penting karena banyak pelaku UMKM masih menjalankan usaha secara operasional tanpa sistem yang memadai, sehingga pertumbuhan bisnis kerap bergantung pada kapasitas personal pemilik usaha.


Salah satu aspek yang ditekankan adalah pentingnya memahami fungsi dasar manajemen yang meliputi planning, organizing, actuating, controlling, dan improving. Kelima aspek tersebut menjadi fondasi agar pelaku UMKM dapat menjalankan usahanya secara lebih terarah, melakukan evaluasi secara berkala, serta melakukan perbaikan berdasarkan perkembangan bisnis.


Selain manajemen, peserta juga mendapatkan penguatan mengenai Business Model Canvas (BMC) sebagai instrumen untuk memetakan model bisnis. Pendekatan tersebut membantu pelaku UMKM memahami berbagai elemen penting dalam bisnis, mulai dari segmentasi pelanggan, proposisi nilai, saluran pemasaran, hubungan dengan pelanggan, sumber pendapatan, hingga struktur biaya dan sumber daya utama.


"Pelaku UMKM perlu membangun kebiasaan pencatatan keuangan harian, sehingga kondisi keuangan usaha dapat dipantau secara lebih objektif. Pemahaman mengenai harga pokok penjualan (HPP), penentuan harga jual, serta pemisahan antara keuangan usaha dan kebutuhan pribadi menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola bisnis yang lebih sehat," kata Dr Jumadi.


Di sisi pemasaran, ia memperkenalkan strategi 4P, yakni product, price, place, dan promotion. Pendekatan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari strategi pemasaran yang perlu disusun berdasarkan karakteristik produk dan target pelanggan, bukan sekadar mengikuti tren pemasaran.


"Penguatan bisnis UMKM juga dikaitkan dengan pentingnya branding dan hubungan dengan pelanggan. Identitas merek, kualitas layanan, konsistensi produk, serta kemampuan memahami kebutuhan pelanggan menjadi faktor yang perlu diperhatikan agar UMKM tidak hanya mampu mendapatkan konsumen, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang," pungkas Dr Jumadi.


Pada aspek transformasi digital, pelaku UMKM diperkenalkan dengan tahapan digitalisasi usaha, mulai dari penggunaan kanal digital dasar hingga pemanfaatan data dan kecerdasan artifisial dalam mendukung pengambilan keputusan. Digitalisasi ditempatkan bukan semata-mata sebagai aktivitas menggunakan media sosial, tetapi sebagai bagian dari proses pengembangan dan efisiensi bisnis.


Bhenu

Iklan

iklan