Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Arsitektur Masjid & Panggilan Keberlanjutan

Kamis, Juli 23, 2026, 10:37 WIB Last Updated 2026-07-23T03:39:10Z

 

            Desy Ayu Krisna Murti
Dosen Program Studi Arsitektur Universitas Widya Mataram Yogyakarta


Pernahkah Anda melangkah masuk ke dalam sebuah masjid di sebuah desa pada suatu siang yang terik? Di luar, matahari seakan sedang marah dan aspal jalanan memantulkan uap panas. Namun, begitu kaki Anda menyentuh teras masjid, ada perubahan yang seketika terasa. Lantai terakota atau ubin kuncinya terasa dingin. Angin sejuk mengalir lembut dari jendela-jendela kayu yang dibiarkan terbuka lebar, berhembus melewati pilar-pilar kayu, dan mengeringkan keringat di dahi. Di ruang itu, tanpa deru mesin pendingin ruangan (AC), kita bisa bernapas lega dan khusyuk bersujud.


Sensasi itu bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari kecerdasan arsitektur masa lalu yang sangat memahami bahasa alam. Sayangnya, ketika kita melihat ke sekeliling kita hari ini, pengalaman seperti itu mulai jarang kita temukan.


Di era modern, kita sering kali terjebak pada definisi "kemegahan" yang keliru. Kita membangun masjid-masjid raksasa dengan kubah beton massif, dinding kaca yang menyerap panas, dan mengadopsi mentah-mentah gaya arsitektur Timur Tengah tanpa memedulikan fakta bahwa kita hidup di iklim tropis. Hasilnya? Ruangan menjadi pengap bak efek rumah kaca. Solusi instannya adalah memasang puluhan unit AC berkekuatan besar yang menyala siang dan malam. Bukankah ada sebuah ironi besar di sini? Spahic (2009) telah menyampaikan bahwa ruang suci yang seharusnya menjadi simbol kedamaian justru menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di lingkungannya.


Membicarakan arsitektur masjid sejatinya tidak bisa dilepaskan dari konsep Khalifah fil ardh—manusia sebagai wakil atau penjaga bumi. Keberlanjutan (sustainability) bukanlah konsep baru yang diimpor dari Barat; ia adalah akar dari teologi lingkungan Islam. Cendekiawan Muslim, Seyyed Hossein Nasr (1996) menyampaikan bahwa seni dan arsitektur Islam klasik selalu lahir dari harmoni yang mendalam dengan alam, bukan dari upaya untuk menaklukkannya.


Mari kita tengok arsitektur Masjid Agung Demak atau masjid-masjid tradisional Nusantara lainnya. Atapnya yang berbentuk tajug atau tumpang (bersusun) bukanlah tanpa alasan fungsional. Rongga di antara susunan atap itu berfungsi sebagai ventilasi silang (cross-ventilation) alami, membiarkan udara panas naik dan keluar, sementara udara segar terus berputar di bawah. Materialnya menggunakan bahan lokal yang jejak karbonnya sangat rendah. Mereka membangun dengan apa yang bumi sediakan di sekitar mereka. Ada keberlanjutan yang lahir dari kerendahan hati.


Sebaliknya, saat arsitektur masjid modern memaksakan material seperti marmer impor, beton ekspansif, dan sistem tertutup sepenuhnya, kita sebenarnya sedang membangun tembok pemisah antara manusia dan alam. Kita lupa bahwa alam semesta ini juga sedang bertasbih bersama kita.


Aspek keberlanjutan arsitektur masjid tidak hanya soal udara dan material, tetapi juga soal air. Setiap hari, lima kali sehari, puluhan hingga ribuan orang mengambil air wudu. Pernahkah kita menghitung berapa liter air bersih yang langsung terbuang ke selokan?


Nabi Muhammad SAW memberikan sebuah teguran yang sangat tajam, namun indah tentang air. Seperti disampaikan pada HR. Ahmad dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW melarang umatnya melakukan pemborosan air saat berwudu, bahkan jika kita sedang berada di tepi sungai yang mengalir deras. Pesan ini sangat ekologis. Namun, desain tempat wudu di mayoritas masjid kita hari ini tidak memfasilitasi penghematan tersebut. Kran air mengucur deras tanpa henti, dan sistem drainase langsung membuangnya begitu saja.


Sebuah masjid yang mengusung sustainability tentu akan merespons masalah ini melalui arsitekturnya. Desain tempat wudu masa depan harus mengintegrasikan sistem greywater recycling (daur ulang air limbah ringan). Al-Hamed (2018) menunjukkan bahwa air sisa wudu, yang pada dasarnya masih sangat bersih karena tidak bercampur bahan kimia berat, ditampung, disaring secara alami menggunakan kolam bio-filtrasi atau tanaman air, lalu digunakan kembali untuk menyiram taman masjid atau menggelontor toilet. Dengan pendekatan ini, masjid tidak sekadar menjadi tempat ibadah vertikal (kepada Tuhan), tetapi juga pusat edukasi horizontal (kepada alam dan manusia).


Arsitektur masjid di masa depan harus kembali menjadi 'guru' bagi jamaahnya. Ketika seorang anak melihat masjidnya menampung air hujan, memanfaatkan cahaya matahari sebagai energi, membiarkan angin bertiup bebas mendinginkan ruangan, dan merawat pepohonan di halamannya, anak itu sedang belajar tentang ekologi Islam tanpa perlu membaca buku tebal.


Sudah saatnya kita merevisi standar keindahan kita. Kemegahan sejati sebuah masjid tidak diukur dari seberapa tinggi menaranya menusuk langit, atau seberapa mahal harga marmer yang menutupi lantainya. Kemegahan sejati terletak pada seberapa ramah bangunan itu bersentuhan dengan bumi, seberapa sedikit ia mengganggu ekosistem, dan seberapa besar ia memberikan kehidupan bagi makhluk di sekitarnya.



>Bhenu

Iklan

iklan