Jakarta, Kompasone.com — Pergerakan harga emas dunia (XAU/USD) terus menunjukkan dinamika yang menarik perhatian para pelaku market global. Di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan situasi makroekonomi terbaru, seorang trader, Bahrul Ulum, memberikan pandangan komprehensif mengenai ke mana arah pergerakan komoditas safe-haven ini selanjutnya.
Menurut analisis terbaru dari Bahrul Ulum, Market XAU/USD saat ini sedang berada dalam fase krusial. Pergerakan harga emas yang sempat tertahan di bawah level psikologis penting memicu konsolidasi ketat, seiring dengan para pelaku market yang mengantisipasi rilis data ekonomi utama Amerika Serikat, khususnya data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI).
Secara teknikal, Bahrul Ulum menyoroti bahwa XAU/USD sedang menguji area-area penentu yang akan mendikte arah tren jangka menengah.
Zona Resistance (Atas): Jika harga mampu menembus dan bertahan (breakout) di atas area resistance terdekat, emas berpotensi memicu momentum bullish baru menuju puncak channel perdagangan yang lebih tinggi.
Zona Support (Bawah): Sebaliknya, kegagalan mempertahankan area pertahanan terdekat dapat menyeret harga emas kembali menguji level-level terendah sebelumnya (area kisaran $4.100 - $4.200 per troy ounce).
"Saat ini market cenderung wait-and-see. Pola grafik menunjukkan adanya tekanan jangka pendek, namun koreksi ini merupakan hal yang wajar setelah reli panjang. Kuncinya ada pada penutupan harga harian terhadap level support kuatnya," ujar Bahrul Ulum saat memaparkan analisisnya.
Dari sisi fundamental, Bahrul menegaskan bahwa pergerakan XAU/USD tidak bisa lepas dari dominasi Indeks Dolar AS (DXY) dan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Jika data inflasi AS mendatang rilis lebih tinggi dari ekspektasi, hal ini berpotensi memberikan sentimen hawkish bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga restriktif lebih lama. Skenario ini diprediksi akan memperkuat Dolar AS dan menekan harga emas. Sebaliknya, jika inflasi menunjukkan tanda-tanda mendingin, emas berpeluang besar untuk kembali rebound tajam.
Selain faktor inflasi, ketegangan geopolitik global yang masih terjadi di beberapa kawasan tetap menjadi bahan bakar cadangan yang siap menopang daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai kapan saja.
>Red
