Sumenep, Kompasone.com - Masuk dalam lingkaran "derita tiada akhir" tampaknya sedang benar-benar dirasakan oleh Penjabat (PJ) Kepala Desa Banaresep Barat, Kecamatan Lenteng, Sumenep.
Bagaimana tidak? Urusan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) bidang pertanian yang murni boncos akibat faktor alam, justru digoreng renyah menjadi ladang "setoran" berkelanjutan oleh oknum yang mengaku kuli tinta.
Gaya mainnya pun epic, pakai rumus estafet bergilir, pakai spion lokal, sampai jurus mabuk bawa-bawa nama Kejaksaan. Sebuah komedi satir yang sukses membuat kantong sang PJ bolong demi menjaga "komitmen".
Semua drama ini bermula dari ambisi positif Ketua Bumdes Banaresep Barat, Atik / (Atek). Dengan semangat berapi-api demi ketahanan pangan, ia membuka usaha tani penanaman jagung skala besar di lahan milik Bumdes. Hitungan sudah matang, modal sudah digelontorkan. Namun, apa daya manusia berencana, allah yang menentukan.
Tanah yang digarap ternyata tipe "tanah besar" istilah orang tua dulu untuk lahan yang punya daya serap air luar biasa gila, sedahsyat apa pun dialiri air, tetap saja kering kronis. Hasilnya? Jagung gagal tumbuh, kerugian besar tak terhindarkan.
Sebagai ketua yang taat hukum, Atek tak sembunyi. Beliau langsung membuat laporan resmi ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sumenep sesuai prosedural. Bersih, transparan, dan gentle.
Sayangnya, musibah alam ini diendus oleh warga berinisial FS. Rekam jejak FS memang dikenal sebagai "si usil" spesialis pembuat isu miring. Melihat Bumdes lagi apes, insting oportunis FS langsung menyala. Ia segera menghubungi partner keusilannya, seorang oknum media bernama Mansur.
Lewat olahan informasi dari FS yang bertindak sebagai spionase lokal, Mansur langsung menelurkan berita bombastis. Narasinya jahat: gagal panen itu seolah-olah murni akibat korupsi penyelewengan dana ketahanan pangan oleh pihak desa.
Panik? Jelas. Pihak desa yang berniat menjaga kondusivitas akhirnya memilih jalur "damai" demi menghargai kerja media atau lebih tepatnya, agar asumsi liar di masyarakat tidak semakin digoreng. Urusan pun disepakati selesai dengan sejumlah komitmen finansial. Mansur tersenyum kenyang.
Aneh tapi nyata, tak berselang lama setelah Mansur "diamankan", muncul lagi berita dengan topik yang sama persis di media lain. Kali ini aktor utamanya bernama Sumitro.
Merasa dikhianati, sang PJ langsung menodong Mansur, "He Mansur, kenapa berita itu keluar lagi? Padahal urusan ini sudah beres sesuai permintaanmu!"
Di sinilah drama komedi sesungguhnya terjadi. Saat Mansur menegur Sumitro, terjadilah dialog kocak antar-oknum:
Mansur: "Hey Sumitro, kamu kenapa kok tulis temuanku?"
Sumitro: "Loh, ini temuanku sendiri! Info dari FS!"
Mansur: (Sambil menepuk jidat) "FS itu spionku yang sengaja kutugaskan di Desa Banaresep Barat agar tak lepas dari pantauan!"
Sadar rahasia dapurnya bocor, Mansur bukannya malu, malah memberi komando jahat ke Sumitro: "Begini Sumitro, kamu jangan tanggung-tanggung kalau mau menghantam Banaresep Barat biar lumpuh sekalian!" Luar biasa kekompakan dua sahabat ini dalam memeras satu desa.
Setelah sempat adem beberapa pekan, skenario baru dimatangkan. Kali ini Mansur dan Sumitro mengeluarkan "Jurus Mabuk" tingkat lanjut. Mereka menggunakan jasa orang ketiga bernama Rusdi Marmoyo untuk mengirim pesan nakut-nakuti ke telinga PJ.
Marmoyo bertugas meniupkan isu panas bahwa kasus Bumdes yang aslinya sudah "mati suri" itu sekarang dihidupkan kembali dan diklaim positif dilaporkan ke Kejaksaan Negeri Sumenep.
Mendengar kata "Kejaksaan", jantung PJ Banaresep Barat kembali dipaksa copot. Telepon darurat pun kembali mendarat di telinga Mansur dengan nada melas luar biasa:
"Halo Mansur, kenapa urusan ini belum selesai-selesai? Apa ini yang dimaksud derita tiada akhir?" keluh sang PJ, frustrasi menghadapi lingkaran setan pemerasan ini.
Dengan nada sok pahlawan kesiangan, Mansur langsung mengeluarkan jurus kunciannya: "Asal Komitmen saya bantu, jangan bikin malu saya pada Sumitro. Bagaimana, Pak PJ?"
Terjepit di antara rasa takut dan tekanan psikologis, sang PJ yang sudah kehabisan modal akhirnya pasrah tak berdaya. "Baiklah saya komitmen, Mansur. Tapi beri waktu agar aku bisa mencari hutangan agar tidak membuatmu malu," ucap PJ dengan muka memelas.
Sungguh sebuah pemandangan yang memprihatinkan sekaligus menggelikan di wilayah hukum Sumenep. Tugas jurnalisme yang seharusnya menjadi pilar kontrol sosial demi kemajuan daerah, justru didegradasi oleh oknum-oknum semacam Mansur, Sumitro, dan spion usil mereka, FS, menjadi alat gertak pemeras uang saku.
Kepada Pak PJ Banaresep Barat, stop panik dan stop mencari hutangan untuk memberi makan oknum-oknum bermental predator ini. Jika administrasi laporan ke DPMD sudah benar dan kerugian murni karena faktor alam, untuk apa takut pada "gertakan sambal" laporan Kejaksaan?
Sudah saatnya institusi penegak hukum di Sumenep, termasuk pers yang sehat, membersihkan benalu-benalu media yang hobi memakai jurus mabuk demi memperkaya diri sendiri. Jangan biarkan Banaresep Barat terus-menerus menjadi sapi perah komplotan Mansur CS!
(R. M Hendra)
