Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Cinta yang Tidak Rabun di Balik Lensa yang Buram

Sabtu, Juni 06, 2026, 21:54 WIB Last Updated 2026-06-06T14:54:48Z

Penulis : R. M Hendra


Foto itu sengaja dibuat buram. Mungkin sang fotografer ingin melindungi privasi mereka, atau mungkin, kamera itu sendiri tak sanggup menahan haru hingga lensanya berembun. Namun, meski visualnya kabur, realitas di dalamnya terpancar begitu tajam, menusuk langsung ke ulu hati siapa saja yang masih memiliki nurani.


Di zaman di mana "ada uang abang sayang, tak ada uang abang ditendang" menjadi rahasia umum, di kala badai ekonomi dengan mudahnya mengharamkan bahtera rumah tangga, kita disuguhkan pemandangan yang membuat dada sesak. Sepasang lansia, kakek dan nenek, berjalan menyusuri aspal yang panas. Sang kakek duduk di atas trotoar, tubuhnya tak lagi sekuat dulu untuk menopang beban hidup. Namun dia tidak sendirian. Di belakangnya, ada sepasang tangan keriput yang mendorongnya dengan penuh kasih sang istri.


Tangan yang sama yang mendorong gerobak roda itu, juga digunakan untuk memungut botol-botol plastik bekas di jalanan. Demi menyambung nyawa, demi sesuap nasi.


"Sakinah, Mawaddah, Warahmah" bukan sekadar hiasan di kartu undangan pernikahan atau ucapan basa-basi di media sosial. Bagi mereka, delapan huruf itu adalah janji suci yang dihidupi setiap detik, di antara bau sampah dan terik matahari.


Sangat mudah bagi seorang istri untuk mengemas pakaiannya, berbalik arah, dan menuntut cerai ketika dompet suami kosong. Tekanan ekonomi adalah ujian paling jujur dalam sebuah komitmen. Namun nenek ini memilih jalan yang sunyi dan terjal. Dia memilih menjadi kaki bagi suaminya yang lumpuh, menjadi pelindung di kala badai, dan menjadi rekan kerja di jalanan. Mereka menua bersama, melarat bersama, namun kaya oleh cinta yang tidak mampu dibeli oleh uang miliaran rupiah.


Melihat mereka, hati kita seketika berdesir, darah terasa berdesir dingin karena sebuah tamparan keras. Sudahkah kita bersyukur? Kita yang sering mengeluh karena hal-hal sepele, tiba-tiba dihadapkan pada ketulusan mutlak yang bertahan di atas kursi roda dan karung pemulung. Air mata rasanya tak cukup untuk menggambarkan rasa hormat dan sekaligus rasa perih melihat pemandangan ini.


Kisah mereka adalah tamparan bagi kita yang sering kufur nikmat, sekaligus menjadi cermin retak bagi sistem sosial kita. Mengapa di usia senja, di saat tubuh seharusnya beristirahat dan menikmati sisa hidup dengan tenang, mereka masih harus bertarung nyawa di jalanan?


Di mana kehadiran negara? Bukankah undang-undang kita mengamanatkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara? Orang-orang lanjut usia, terlebih yang memiliki keterbatasan fisik seperti sang kakek, seharusnya mendapatkan jaminan sosial, fasilitas kesehatan, dan kelayakan hidup yang dijamin penuh. Mereka tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian hingga napas terakhir di sudut-sudut kota yang angkuh.


Setia sehati hingga akhir hayat adalah kemuliaan mutlak dari sang istri. Namun, membiarkan kemuliaan itu berkalang kemiskinan ekstrem di masa tua adalah kelalaian kita bersama. Semoga potret buram ini mampu mengetuk pintu hati para pemangku kebijakan, agar mata mereka tak lagi buram melihat penderitaan rakyat kecil.

Iklan

iklan