Ada kalanya singa memilih menunduk bukan karena ia kehilangan taringnya, melainkan karena ia sedang memberi ruang bagi angin untuk lewat, atau membiarkan kawanan serigala mengira mereka telah memenangkan rimba.
Di balik ruang senyap sebuah rumah sakit, Haji Ardi saat ini sedang memperagakan seni tertinggi dalam budi pekerti: diam yang berwibawa, dan mengalah yang penuh siasat. Ia memilih menjatuhkan diri sejenak, memberi kesempatan bagi para penentangnya untuk merayakan ilusi kemenangan.
Haji Ardi bukanlah sosok yang buta. Ia tahu persis siapa saja kawanan yang bergerak dalam bayang-bayang, merajut konspirasi, dan berkoloni dengan ambisi untuk menumbangkannya. Di antara riuh rendah itu, ada pula jemari yang diam-diam memeriksa, memastikan apakah sang nakhoda benar-benar telah karam.
Namun, mereka lupa pada sebuah hukum alam: musuh yang paling berbahaya adalah ia yang mengizinkan dirinya menjadi martir dalam sepi, bersiap menjadi mimpi buruk yang akan menyapu bersih seluruh kepalsuan tanpa menyisakan remah-remah.
Sebuah petuah bijak mengingatkan kita. Jangan pernah menilai singa yang mencintai kedamaian sebagai makhluk yang takut akan peperangan. Sebab, ketika kesabaran seorang manusia tangguh telah melampaui batas bendungannya.
Murka yang lahir kemudian adalah sebuah kekuatan besar yang tak lagi mengingat belas kasih. Logikanya sederhana: jika seorang Haji Ardi memiliki keberanian untuk menabrak batasan-batasan besar dalam hidupnya, mengapa ia harus gentar bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat?
Jeddah di Tengah Riuhnya Panggung Tuduhan. Tubuh Haji Ardi mungkin sedang terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit, di bawah tatapan dingin dinding-dinding bangsal. Namun, bagi mereka yang mengira sang pengusaha tumbang karena badai laporan ke Polda atau PT Pertamina Patra Niaga terkait Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) miliknya.
Mereka telah salah membaca arah mata angin. Keberadaannya di ruang perawatan bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah halte perenungan sebuah strategi jeda di tengah panggung sandiwara yang penuh tuduhan.
Melalui sambungan telepon, suara Haji Ardi mengalir dengan ketenangan yang mengagumkan, layaknya air telaga jernih yang tak terusik oleh lemparan kerikil kecil.
"Saya hanya ingin terlihat lemah saat dihantam gelombang tuduhan menimbun BBM dan laporan-laporan itu," ujarnya perlahan, memancarkan kedewasaan sikap yang matang.
Bagi Haji Ardi, merebahkan diri saat ini adalah caranya memuliakan kedamaian dan meredam kegaduhan yang sia-sia. Ia memilih menarik diri ke dalam kesunyian agar publik, dengan mata yang jernih, dapat melihat siapa sebenarnya yang selama ini menjadi "jantung" yang mengalirkan urat nadi kehidupan bagi para nelayan untuk melaut.
"Saya ingin membuat suasana yang gaduh ini menjadi tenang, agar masyarakat sadar selama ini siapa yang melayani mereka untuk melaut. Saya ingin mereka sadar bahwa sepuluh kebaikan akan hilang hanya dengan satu kesalahan itulah hukum alam," ungkapnya. Sebuah refleksi budi yang mendalam tentang betapa rapuhnya ingatan manusia ketika dihujani oleh rumor dan fitnah.
Menanggapi aksi Juhari, sosok yang belakangan gencar menyerangnya melalui rekaman video di grup-grup percakapan, Haji Ardi tidak membalasnya dengan api yang sama. Ia justru menyambutnya dengan senyuman tipis penuh wibawa. Baginya, genderang perang yang ditabuh sang rival tak lebih dari sekadar riak kecil di permukaan samudera pengalamannya.
"Juhari dengan gaya dan cara berbicaranya di video itu sebenarnya hiburan buat saya. Saya sudah terbiasa dihantam badai topan, jadi untuk apa menggigil hanya karena gerimis?" selorohnya, mematahkan serangan lawan dengan analogi yang berkelas.
Ia pun membawa perseteruan ini ke tingkat pemikiran yang lebih tinggi melalui sebuah fabel kehidupan yang sarat akan pesan moral. Bagi Haji Ardi, membalas tindakan rendah dengan cara yang sama hanya akan mengikis keluhuran martabat manusia itu sendiri.
"Kalau kita digigit anjing, kita cukup mengobati luka bekas gigitan tersebut, daripada kita balas menggigit balik anjing itu. Karena kita manusia, bukan anjing," tegasnya secara filosofis. Di sinilah letak budi pekerti yang tinggi, menolak turun kelas demi melayani amarah pihak lain.
Bukannya menyusun taktik pembalasan yang destruktif, pengusaha APMS ini memilih jalan mendaki yang hanya bisa dilalui oleh jiwa-jiwa besar. Ia melepaskan kendali ego, membiarkan lawannya menari dengan bebas di atas panggung yang sebenarnya diciptakan oleh kelonggaran hatinya sendiri.
Bahkan, dari balik selimut rumah sakit, doa-doa kebaikan justru mengalir dari lisannya untuk mereka yang telah sengaja merancang skenario untuk menjatuhkannya. Itulah wujud tertinggi dari ksatria yang telah selesai dengan dirinya sendiri.
Menutup perbincangan, Haji Ardi menghela napas panjang. Helaan napas itu bukanlah pertanda menyerah kalah pada takdir, melainkan sebuah ketukan palu wibawa, sebuah aba-aba senyap sebelum sang nakhoda kembali memegang kendali kemudi dengan kokoh.
"Sudah saatnya saya selesaikan semuanya, hingga semua kembali baik-baik saja, sama seperti biasanya," pungkasnya.
Isyarat itu berdiri dengan tegak dan jelas. Tak lama lagi, riuh rendah gemuruh dan debu yang beterbangan ini akan disapu bersih. Air yang sempat keruh oleh kepalsuan akan kembali bening, dan kebenaran akan kembali menemukan jalannya untuk pulang.
Penulis :
(R. M Hendra)
