Oleh:
R. M Hendra
Membaca kecemasan tentang masa depan sebuah tanah leluhur adalah tanda kepedulian. Namun, menaruh harga diri Madura pada selembar tiket pertandingan atau hasil 90 menit di lapangan hijau adalah sebuah pandangan yang mengecilkan keluasan jiwa kita. Adab ketinggian budi mengajarkan bahwa kehormatan sejati tidak lahir dari kemenangan yang meragukan diri sendiri, melainkan dari keberanian untuk berdiri tegak menghadapi badai, hadir secara nyata, dan tidak bersembunyi ketika takdir sedang diuji.
Memilih untuk tidak datang ke stadion dengan alasan "terlalu peduli" dan takut melihat kehancuran, sesungguhnya adalah bentuk kerapuhan yang dibungkus kata-kata indah. Jiwa Madura yang asli tidak mengenal kata mundur sebelum bersemuka. Ketegasan prinsip kita mengatakan: Lebih baik hadir dan menyaksikan runtuhnya sebuah benteng bersama saudara-saudara kita, daripada duduk di sudut sunyi menyelamatkan hati sendiri. Kita tidak menusuk dari belakang dengan keraguan, dan kita tidak meninggalkan barisan saat badai mengancam. Jika ingin setia, setialah di dalam riuh maupun sepi, di dalam jaya maupun luka.
Khawatir bahwa persatuan kita akan tercerai-berai setelah peluit panjang ditiupkan adalah sebuah prasangka yang menafikan hakikat budaya kita. Persaudaraan orang Madura bukan seperti pasir yang mudah ditiup angin, melainkan seperti batu karang di Selat Madura kian dihantam ombak, kian mengeras jalinannya.
Kita tidak membutuhkan sepak bola hanya untuk belajar bersatu.
Kita tidak memerlukan sebuah klub untuk membuktikan kita bisa kompak tanpa kekerasan.
Budaya kita telah lama melahirkan falsafah rampung dan akor (rukun) yang bersumber dari surau dan kitab suci. Menuduh bahwa kita hanya solid di dalam stadion dan kembali tercerai dalam kehidupan nyata adalah sebuah sinisme yang tidak jujur pada realitas. Pergilah ke tanah perantauan, lihatlah bagaimana satu jabat tangan sesama asal Madura mampu membuka pintu rezeki dan perlindungan. Itu adalah ikatan darah dan batin, bukan ikatan penonton sepak bola.
Narasi yang menyebutkan bahwa kesadaran kolektif kita harus diarsiteki oleh satu atau dua tokoh perorangan adalah pandangan yang mengkerdilkan martabat luhur tanah ini. Kita menghormati guru, kita memuliakan pemimpin yang tulus, namun jiwa Madura adalah jiwa yang merdeka. Keberanian kita untuk berdiri tidak dicetak dari ruang manajemen sebuah klub, melainkan diwariskan langsung melalui air susu ibu dan ketegasan ayah yang mendidik kita di atas tanah garam yang keras.
Kita adalah anak-cucu dari perlawanan sejati. Jika kita mampu melahirkan Syaikhona Kholil yang merawat spiritualitas bangsa, atau Mohammad Tabrani yang menenun bahasa persatuan, maka energi itu tidak pernah padam. Energi itu ada pada setiap pemuda yang jujur bekerja, setiap kiai yang ikhlas mengajar, dan setiap perantau yang menjaga nama baik keluarganya. Kita tidak sedang tertidur, dan kita tidak butuh dibangunkan oleh sekadar panggung hiburan.
"Kehormatan tidak dirawat dengan cara memelihara ketakutan akan kemiskinan struktural atau konflik internal sebagai hantu yang menakut-nakuti diri sendiri. Kehormatan dibuktikan dengan cara berhadapan langsung, membenahi yang rusak dengan tangan terbuka, bukan dengan saling menyalahkan di balik punggung sejarah."
Hari ini, esok, dan selamanya, Madura United hanyalah sebagian kecil dari etalase, bukan pondasi rumah besar kita. Kemenangan 2-0 adalah kegembiraan sesaat yang patut disyukuri dengan wajar, tanpa perlu dijadikan pembenaran bahwa kita baru saja selamat dari kehancuran peradaban.
Madura tidak akan pernah tamat, bukan karena sebuah klub bertahan di kasta tertinggi, tetapi karena di dalam dada setiap manusianya mengalir darah penuh martabat, Tegas dalam bertindak, santun dalam berucap, setia pada persaudaraan, dan menolak bersikap munafik dalam menghadapi kenyataan. Sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang ragu dan bersembunyi, sejarah selalu ditulis oleh mereka yang berani melangkah, saling merangkul, dan menatap masa depan dengan kepala tegak.
