![]() |
| Drs. Jhon Musa Tobing, MSc Ekanusa Foundation |
Jakarta, Kompasone.com - Ekanusa Foundation sebuah LSM Lingkungan dan HAM bekerja isu Sosial Kemasyarakatan meminta MPR -RI mengevaluasi pelaksanaan Cerdas Cermat 4 Pilar MPR-RI tingkat Provinsi Kalbar yang berlangsung final 9 Mei 2026 di Pontianak meninggalkan pertanyaan yang lebih besar dari skor akhir, apa yang diajarkan kepada siswa SMA ketika mereka berani jujur di depan publik.
Tiga sekolah yang melaju ke final adalah SMA 1 Pontianak, SMA 1 Sambas dan SMA 1 Sanggau.
Polemik muncul saat sesi rebutan soal tentang proses pemilihan anggota BPK.
SMA 1 Pontianak menjawab lebih dahulu. Jawabannya identik dengan jawaban SMA 1 Sambas yang keluar sesudahnya
Hasilnya berbeda, jawaban pertama dikurangi nilai 50 dan jawaban kedua diberi nilai penuh 150
Siswi dari SMA 1 Pontianak merespon dengan kalimat sederhana : Izin, kami tadi menjawabnya sama seperti regu B... protes tidak merubah hasil dari tim juri. Tim dipaksa ikut pengulangan final.
Ini bukan soal menang - kalah, ini soal apa yang dipelajari generasi muda tentang kejujuran dan keadilan, ujar ketua Ekanusa Foundation LSM Lingkungan dan HAM Ekanusa Drs. Jhon Musa Tobing Msc di Jakarta Sabtu (15/5/2026)
Menurut Ekanusa, program kebangsaan yang dibiayai APBN seharusnya menjadi ruang pendidikan karakter.
Ketika mekanisme juri gagal dan tidak ada ruang banding yang adil, pesan yang diterima siswa adalah bahwa kebenaran bisa dikalahkan prosedur.
Ekanusa foundation mengajukan tiga permintaan kepada Pimpinan MPR memberikan pengakuan terbuka atas sikap jujur siawa, membuka evaluasi independen terhadap mekanisme juri dan menjadikan peristiwa ini bahan pembelajaran nasional.
Republik yang besar adalah yang berani belajar dari anak-anaknya. Kalau ruang cerdas cermat saja tidak aman untuk kejujuran bagaimana kita berharap generasi ini berani bersuara soal Lingkungan dan Hak Asasi manusia, tegas Ekanusa
Lembaga ini berharap kritik tersebut untuk perbaikan sistem lembaga negara.
Maruli. S
