Yogyakarta, kompasone.com — Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar kegiatan Syawalan dan Kolaborasi Strategis Jogja Halal Fest (JHF) #3 di Gedung Heritage Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Rabu (8/4). Kegiatan ini mengundang 71 stakeholder strategis di DIY yang terdiri dari unsur pemerintah, regulator, asosiasi, akademisi, pelaku usaha, serta internal MES DIY.
Mengusung tema “Momentum Syawal: Mentransformasi Kesalehan Personal Menjadi Kebangkitan Umat”, kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah dan industri halal di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bagian dari penguatan ekonomi syariah nasional.
Hadir dalam kegiatan ini antara lain Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hermanto, Ketua Umum MES DIY Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec., Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 1 OJK DIY Kurnia Febra, perwakilan BPJPH Jateng-DIY Ika Efrilia, Ketua Kadin Syariah DIY Drs. Heroe Poerwadi.
Ketua MES DIY, Prof. Edy Suandi Hamid, menyampaikan bahwa industri halal saat ini menunjukkan perkembangan yang signifikan dan telah menjadi salah satu sektor strategis dalam perekonomian global. Ia menekankan bahwa peningkatan permintaan produk halal harus direspons dengan penguatan ekosistem yang terintegrasi.
“Produk halal tidak lagi sekadar menjadi kebutuhan, tetapi telah berkembang menjadi peluang ekonomi global yang sangat besar. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar potensi tersebut dapat memberikan dampak yang luas dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, penyelenggaraan Jogja Halal Fest yang dilakukan secara konsisten merupakan langkah konkret dalam menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Hermanto, menegaskan bahwa momentum Syawal perlu dimaknai sebagai titik awal untuk memperkuat komitmen bersama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang inklusif.
“Syawal merupakan momentum untuk memulai langkah baru yang lebih baik. Kami berharap berbagai inisiatif seperti Jogja Halal Fest dapat terus berkembang, memperkuat sinergi antar stakeholder, serta memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu penggerak utama dalam pengembangan ekonomi syariah di tingkat nasional.
Dalam tausiyahnya, Dr. Muhamad, M.Ag., menekankan pentingnya melanjutkan nilai-nilai Ramadan melalui konsistensi (istiqamah) dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas ekonomi. Ia menjelaskan bahwa kesalehan personal harus ditransformasikan menjadi kesalehan sosial yang berdampak nyata.
“Syawal adalah momentum transformasi. Nilai kejujuran, disiplin, dan empati yang dibangun selama Ramadan perlu diwujudkan dalam praktik ekonomi yang berkeadilan, termasuk melalui penguatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya menjauhi praktik riba serta memperkuat solidaritas sosial sebagai fondasi kebangkitan ekonomi umat.
Pada kesempatan tersebut, Ketua OC JHF #3, Coach Wulan, memaparkan rencana penyelenggaraan Jogja Halal Fest #3 yang akan dilaksanakan pada 10–13 September 2026 di Jogja Expo Center (JEC).
Jogja Halal Fest #3 akan mengusung pendekatan ekosistem dengan fokus pada 21 sektor industri halal, mulai dari makanan dan minuman, modest fashion, keuangan syariah, pariwisata ramah muslim, hingga sektor kesehatan, pendidikan, teknologi, industri kreatif dll
Selain itu, JHF #3 membuka peluang kolaborasi bagi berbagai pihak melalui sejumlah skema kemitraan, antara lain sebagai co-host, program partner, sponsor, tenant, speaker, maupun community support.
Bhenu
Kegiatan Syawalan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan guna mendorong pertumbuhan industri halal, memperluas jejaring ekonomi berbasis komunitas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Bhenu
