![]() |
| Dr. Murdoko, S.H., M.H., Dosen Program Studi Hukum Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram (UWM) |
Peristiwa Nuzulul Qur’an yang diperingati setiap bulan Ramadhan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk kembali meneguhkan hubungan dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Murdoko, S.H., M.H., Dosen Program Studi Hukum Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, dalam refleksinya mengenai makna turunnya Al-Qur’an di tengah tantangan zaman modern.
Menurut Murdoko, Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa besar dalam sejarah umat manusia karena menandai turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia. Ia merujuk pada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia serta pembeda antara yang benar dan yang batil.
“Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca dalam ibadah, tetapi juga pedoman kehidupan yang membimbing manusia dalam iman, akhlak, hingga pembangunan peradaban,” ujar Dr. Murdoko.
Ia menjelaskan bahwa wahyu pertama yang turun di Gua Hira melalui Surat Al-Alaq ayat 1, yang memerintahkan manusia untuk membaca, menunjukkan bahwa Islam menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban. Menurutnya, perintah iqra’ menegaskan bahwa kemajuan umat tidak dapat dipisahkan dari tradisi membaca, belajar, dan berpikir.
Murdoko juga mengingatkan bahwa ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan, masyarakat dunia, khususnya di Jazirah Arab, sedang berada dalam kondisi krisis moral. Pada masa itu, berbagai praktik ketidakadilan seperti perang antar suku, penindasan terhadap perempuan, serta kebiasaan mabuk dan riba menjadi bagian dari kehidupan sosial.
“Dalam situasi yang gelap itu, Al-Qur’an hadir sebagai cahaya yang membawa manusia keluar dari kegelapan menuju kehidupan yang lebih bermartabat,” jelasnya.
Ia menilai pesan Al-Qur’an tetap relevan dengan kondisi dunia saat ini yang ditandai dengan berbagai krisis moral dan sosial. Kemajuan teknologi dan melimpahnya informasi, menurutnya, tidak selalu diiringi dengan kebijaksanaan dan ketenangan batin.
“Banyak manusia modern mengalami kegelisahan karena kehilangan orientasi spiritual. Al-Qur’an mengingatkan bahwa ketenangan hati hanya dapat ditemukan dengan mengingat Allah,” katanya, mengutip Surat Ar-Ra’d ayat 28.
Dalam refleksinya, Murdoko juga menyinggung kisah masuk Islamnya Umar bin Khattab yang tersentuh oleh ayat Al-Qur’an dari Surah Thaha. Kisah tersebut menunjukkan bagaimana wahyu mampu mengubah hati seseorang secara mendalam.
Selain itu, ia mengangkat kisah Fudhail bin ‘Iyadh, seorang mantan perampok yang bertobat setelah mendengar ayat Al-Qur’an dari Surat Al-Hadid ayat 16. Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa satu ayat Al-Qur’an dapat mengubah arah hidup seseorang.
Lebih lanjut, Murdoko menilai peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi pengingat bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya membaca, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, Al-Qur’an tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan antar sesama manusia serta hubungan manusia dengan lingkungan dan kehidupan sosial.
Ia juga menyoroti relevansi nilai-nilai Al-Qur’an dalam menghadapi berbagai persoalan global saat ini, seperti konflik, ketimpangan ekonomi, dan kerusakan lingkungan. Dalam Surat Ar-Rum ayat 41, kata dia, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan manusia.
“Karena itu, Al-Qur’an mengajarkan nilai-nilai peradaban seperti keadilan, amanah, kejujuran, dan kepedulian sosial yang menjadi fondasi masyarakat yang beradab,” ujarnya.
Murdoko berharap momentum Ramadhan dan peringatan Nuzulul Qur’an dapat menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an. Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat kembali hidup dalam kehidupan masyarakat.
“Jika Al-Qur’an benar-benar dijadikan pedoman hidup, maka akan lahir generasi yang jujur, adil, berilmu, dan berakhlak mulia. Generasi inilah yang diharapkan mampu membawa rahmat bagi dunia,” tutupnya.
Bhenu
