Sumenep, Kompasone.com - Angota kelompok tani Surya tani semakin panas. Gara-gara bantuan alat mesin pertanian (alsintan) berupa handtraktor tersebut yang mendadak "hilang" alias lenyap, raib entah ke mana.
Ali Wafa, salah satu anggota Kelompok Tani Surya Tani sudah cukup menahan diri hingga akhirnya hilang kesabaran. Nggak pakai lama, Ali langsung ngegas melaporkan dugaan penggelapan atau klaim sepihak yang dilakukan oknum Ketua Poktan-nya ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep.
Ali Wafa mengaku merasa dipermainkan. Dalam musyawarah kelompok, bukannya mendapat solusi, para anggota malah dibuat gelisah dan melongo. Logikanya, traktor bantuan itu ada buat ngeringin keringat petani, bukan malah hilang tanpa jejak.
"Kami ini gelisah sekaligus heran. Bantuan handtraktor dari pemerintah itu fungsinya melayani petani, khususnya anggota kelompok. Lah, sekarang barangnya malah 'hihang' entah ke mana? Ini maksudnya apa??" tanya Ali dengan nada geram saat ditemui di lapangan.
Menurutnya, kalau fasilitas publik seperti traktor ini raib, yang paling babak belur ya masyarakat kecil. Beban kerja petani yang harusnya ringan malah makin berat gara-gara ulah oknum yang diduga main mata dengan aset negara.
Laporan Ali Wafa ternyata disambut hangat oleh pihak Dinas KPP Sumenep. Alih-alih dipingpong, aspirasi petani ini langsung ditampung. Pihak dinas menyarankan Ali untuk segera berkoordinasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (Korluh) Kecamatan Lenteng sebagai langkah awal investigasi.
Pihak dinas juga menegaskan nggak bakal kasih ampun kalau terbukti ada main belakang. "Jika terbukti ada penyimpangan, akan kami tindak tegas!" begitulah komitmen yang bikin Ali Wafa sedikit bernapas lega.
Merasa mendapat dukungan penuh dari "orang pusat" di kabupaten, Ali Wafa kini bersiap menyiapkan amunisi baru. Langkah berikutnya adalah mendatangi Korluh Pertanian Kecamatan Lenteng untuk konsultasi teknis.
Sepertinya, kasus traktor "ghaib" di Desa Meddelan ini bakal berbuntut panjang. Kalau benar ada oknum yang berani "makan" hak petani, siap-siap saja urusannya bakal sampai ke meja hijau.
(R. M Hendra)
