Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Masalembu "Mendidih"! Kapal Cantrang Bajak Laut Masih Bebas, Nelayan Lokal Geram| Aparat Tidur atau Pura-Pura Buta?

Sabtu, Januari 17, 2026, 18:51 WIB Last Updated 2026-01-17T11:52:12Z

 


Sumenep, Kompasone.com – Laut Sumenep, khususnya di sekitar Pulau Masalembu, lagi panas-panasnya. Bukan karena suhu air laut naik, tapi karena emosi nelayan lokal yang sudah sampai ke ubun-ubun.


Gara-garanya, kapal cantrang raksasa yang statusnya "haram" secara aturan masih bebas mondar-mandir ngeruk kekayaan laut mereka. Karena merasa dicuekin pihak berwenang, para nelayan lokal akhirnya "ambil alih kemudi" dan mengusir paksa sejumlah kapal cantrang, Jumat (16/1/2026).


Buat yang belum paham,Mesin Pengeruk Dasar Laut Ikan Habis, Karang Hancur yaitu kapal cantrang ini bukan sembarang kapal. Dengan ukuran raksasa di atas 30 GT dan pukat dogol katrolnya, mereka ibarat "vacuum cleaner" yang menyapu bersih apa pun di dasar laut.


Dari ikan teri sampai terumbu karang yang butuh puluhan tahun buat tumbuh, semua diangkut tanpa sisa!

Ketua Kelompok Nelayan Rawatan Samudra, Sunarto, dengan nada geram menyebut aksi kapal-kapal dari luar (seringkali dari Pantura) ini sebagai penjajahan ekonomi.


"Cantrang itu merusak dasar laut. Karang banyak yang hancur, ikan jadi jauh. Dampaknya sangat terasa bagi nelayan kecil seperti kami," semprot Sunarto, Sabtu (17/1/2026).


Logikanya simpel Boss, kalau rumah ikan (karang) dihancurkan, ikannya minggat. Kalau ikan minggat, nelayan lokal mau makan apa?


 Yang bikin makin sakit hati, aksi "penjarahan" ini terjadi di depan mata, tapi pengawasan dari pihak berwenang kayak macan ompong. Minimnya patroli bikin kapal-kapal besar itu makin ngelunjak, masuk ke zona nelayan tradisional tanpa rasa takut.


Karena merasa nggak ada yang melindungi, para nelayan Masalembu akhirnya sepakat: Tindakan tegas adalah harga mati! Mereka nggak bakal ragu buat bertindak lebih keras kalau kapal-kapal luar itu masih nekat masuk wilayah mereka.


"Pertanyaannya, sampai kapan nelayan kecil harus adu otot di tengah laut demi menjaga ekosistem? Apa harus nunggu konflik berdarah dulu baru ada kapal patroli yang merapat? Jangan sampai aturan pelarangan cantrang cuma jadi hiasan kertas, sementara di lapangan, laut dikuras habis oleh mereka yang punya modal besar.


Laut Sumenep bukan milik mereka yang punya kapal besar, tapi milik anak cucu kita. Hargai nelayan lokal, atau siap-siap laut Masalembu jadi medan laga!


(R. M Hendra)

Iklan

iklan