Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

GEGER! Pj Sekda Sumenep Mundur dari Kursi Ketua Pansel | Drama Politik atau Cari Aman?

Selasa, Januari 20, 2026, 10:07 WIB Last Updated 2026-01-20T03:08:13Z

Sumenep, Kompasone.com – Panggung birokrasi di ujung timur Pulau Madura mendadak "panas dingin". Publik Sumenep dibuat melongo setelah muncul kabar mengejutkan. Syahwan Effendy, sang Penjabat (Pj) Sekda, mendadak angkat kaki dari kursi Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Sekda di tengah jalan.


Keputusan ini bak petir di siang bolong. Kenapa tidak? Saat mesin seleksi mulai dipanaskan, sang nakhoda justru memilih terjun payung. Tak pelak, aroma "skenario politik" pun tercium menyengat sampai ke hidung para pengamat.


Pengamat Politik dan Kebijakan, Ach Djoni Tunaedy, langsung "gatal" melihat fenomena ini. Pria yang akrab disapa Bung Jon ini mencium ada yang tidak beres di balik layar lelang jabatan kursi nomor satu ASN Sumenep ini.


"Feeling saya langsung main. Kalau memang ada salah prosedur administratif, lha kok dari awal ditunjuk jadi Ketua Pansel? Kenapa baru mundur sekarang saat proses sudah jalan?" tanya Joni dengan nada heran sekaligus menyindir.


Joni menduga ada permainan 'Dramaturgi Kekuasaan'. Menurutnya, publik mungkin sedang disuguhi akting profesional di depan panggung, sementara di balik layar ada misi terselubung yang sedang dijalankan. Apakah ini jalan suci menuju meritokrasi, atau justru Syahwan tak kuat membendung "kekuatan besar" yang sedang menekan?


"Ini preseden buruk kalau alasannya nggak transparan. Kursi Sekda itu bukan cuma soal ngisi jabatan kosong, tapi ajang konsolidasi circle kekuasaan Bupati Fauzi buat lima tahun ke depan. Wajar kalau banyak kandidat lain langsung ciut nyali," tegas eks politisi Demokrat ini.


Sadar dirinya jadi pusat perbincangan, Syahwan Effendy akhirnya buka suara. Ia mengakui telah menanggalkan jabatan Ketua Pansel tersebut. Namun, ia menepis tudingan adanya "titipan" atau tekanan politik liar.


Syahwan berdalih langkah ini diambil demi menjaga marwah seleksi. Berdasarkan konsultasi dengan BKN, ada pertimbangan untuk menghindari konflik kepentingan (conflict of interest). Selain itu, ia merujuk pada Permenpan RB No.15/2019 yang mengatur kualifikasi tim pansel.

.

"Agar pansel lebih kualifaid, berintegritas, dan steril, maka saya mengundurkan diri. Biar tim eksternal lebih objektif dalam menilai," dalih Syahwan kalem.


Meski Syahwan sudah memberi klarifikasi, publik tetap skeptis. Mundurnya Ketua Pansel di saat peminat kursi Sekda masih sepi pelamar memicu spekulasi bahwa ada "benturan kepentingan" yang sangat keras di internal birokrasi.


Apakah pergantian nakhoda Pansel ini akan melahirkan Sekda yang benar-benar kompeten, atau justru sekadar memuluskan jalan bagi "sang putra mahkota" yang sudah disiapkan? Kita lihat saja siapa yang akhirnya tertawa paling akhir di kursi panas tersebut.


(R. M Hendra)

Iklan

iklan