Sumenep, Kompasone.com – Jika Anda melintas di depan kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sumenep, ada satu pemandangan yang mencuri perhatian. Sebuah neon box berdiri tegak dengan tulisan yang bukan sekadar slogan, "Bersama BUM Desa Menjadikan Sumenep Unggul, Mandiri, dan Sejahtera."
Kalimat itu bukan hanya deretan kata, melainkan manifestasi dari "spiritualitas berskala besar" seorang Anwar Syaroni Yusuf.
Bagi para Kepala Desa di Sumenep, Anwar Syaroni Yusuf adalah sosok yang meninggalkan kesan mendalam. Meski kini ia telah berpindah tugas menakhodai Dinas Lingkungan Hidup (DLH), memori saat ia memimpin DPMD masih terasa hangat.
Tak hanya dikenal karena perawakannya yang ganteng dan gagah, ia dikenang karena karakter dan komitmennya yang "paten".
Ia kerap dijuluki sebagai Bapak Bijaksana. Di tangannya, urusan birokrasi terasa lebih manusiawi dan penuh solusi. Namun, yang paling menyentuh adalah visinya tentang kemandirian desa yang selaras dengan cita-cita besar Presiden Prabowo Subianto, Ketahanan Pangan.
Visi Anwar Syaroni yang beliau sebut BUMDes dan Koperasi adalah Dua Mesin Satu Kendaraan yang membawa kita pada pemahaman baru bahwa BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya adalah satu kesatuan tujuan untuk memerdekakan ekonomi warga desa.
"Ini adalah tentang kedaulatan. BUMDes menyiapkan 'senjatanya' berupa infrastruktur dan teknologi, sementara Koperasi Merah Putih menggerakkan 'pasukannya' yaitu para petani," ujar sebuah catatan pemikiran yang selaras dengan langkah Anwar selama ini.
Dalam sistem "Merah Putih" ini, tujuan utamanya bukan sekadar profit (keuntungan materi) melainkan benefit (kesejahteraan bersama). Inilah wujud nyata dari Sila Kelima Pancasila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Bagaimana sinergi ini bekerja secara elegan? Mari kita lihat pembagian perannya, Sektor Produksi BUMDes memastikan bibit dan teknologi tersedia, sementara Koperasi mengedukasi petani agar hasil panennya berkelas.
Sektor Modal melalui 20% Dana Desa lewat BUMDes membangun gudang/lumbung, sedangkan Koperasi menyediakan simpan pinjam untuk operasional harian petani.
Sektor Pasar atau BUMDes menjalin kontrak dengan pembeli besar (off-taker), dan Koperasi menjaga agar harga di tingkat petani tetap layak dan manusiawi.
Kesatupaduan ini menjadi "perisai" bagi warga desa dari gempuran fluktuasi harga pangan global. Dengan menyatukan BUMDes dan Koperasi, desa-desa di Sumenep diharapkan tidak hanya kenyang secara perut, tetapi juga berdaulat secara martabat.
Langkah dan komitmen Anwar Syaroni Yusuf telah meletakkan fondasi yang kuat. Meski kini ia berkarya di tempat baru, semangat "Bumdesa Unggul" akan terus menyala di hati para penggerak desa.
Karena bagi beliau, mengurus desa bukan hanya soal administrasi, melainkan pengabdian spiritual untuk kesejahteraan umat.
(R. M Hendra)

