Oleh: Dato H. Huzrin Hood
Di sebuah masa, jauh sebelum gema proklamasi kemerdekaan Indonesia terdengar, di sebuah pulau bernama Penyengat telah lahir sebuah gerakan intelektual yang menyalakan obor kebangkitan bangsa. Tahun 1895, di bawah naungan Kerajaan Riau-Lingga, berdiri Rusydiah Club (RC) — sebuah organisasi yang kelak dikenang sebagai perkumpulan intelektual pertama di Indonesia yang berjuang membangkitkan kesadaran nasionalisme.
Sejarah kita bukan hanya catatan masa lalu — ia adalah infrastruktur pemikiran, semangat, dan arah masa depan. Bagi saya, mengangkat kembali kisah Rusydiah Club bukan sekadar nostalgia, tetapi upaya membangkitkan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi perjuangan intelektual, sosial, dan ekonomi Melayu.
Pada akhir abad ke-19, Pulau Penyengat tumbuh menjadi pusat intelektual Melayu-Lingga. Dua percetakan utama, Mathba’at al-Riawiyah dan Al-Ahmadiyah Press, mendistribusikan karya-karya penting di berbagai bidang seperti agama, hukum, dan sastra. Ini adalah bentuk kekuatan baru—melalui karya tulis, mereka merasakan denyut kemerdekaan ide.
Rusydiah Club tidak melakukan perlawanan fisik, tetapi simbolik. Mereka menolak pengibaran bendera Belanda, menulis kritik, dan mendesak perubahan melalui media intelektual. Ingat, ini dilakukan saat kolonial masih memegang kendali penuh. Seorang tokoh kolonial bahkan meminta agar RC dan Kesultanan ditumpas—sebuah bukti kekhawatirannya.
Di bawah tekanan bubarnya kerajaan pada 1913, para intelektual RC tidak menyerah. Mereka mendirikan Al-Ahmadiyah Press di Singapura dan memanfaatkan jaringan koperasi dagang Al Syarkah Al-Ahmadiyah untuk mengimbangi monopoli ekonomi kolonial. Kemandirian ekonomi ini menjadi bukti bahwa perjuangan intelektual harus berjalan beriringan dengan kekuatan ekonomi berbasis komunitas.
Rusydiah Club dan Budi Utomo: Siapa Lebih Dulu?
Banyak yang mengenal Budi Utomo (1908) sebagai tonggak kebangkitan nasional. Namun, jarang yang tahu bahwa Rusydiah Club telah lahir 13 tahun lebih awal. Keduanya sama-sama menjadi wadah kaum terpelajar untuk membicarakan nasib bangsa, tetapi RC punya ciri khas: ia tumbuh di lingkungan kerajaan Melayu, menggabungkan perjuangan intelektual, budaya, dan ekonomi. Jika Budi Utomo fokus pada pendidikan dan kaderisasi kaum priyayi Jawa, RC mengembangkan model perjuangan berbasis jaringan perdagangan dan percetakan, yang dampaknya meluas lintas batas kerajaan.
Relevansi di Masa Kini
Hari ini, lebih dari satu abad kemudian, Kepulauan Riau menghadapi tantangan yang berbeda namun tak kalah beratnya. Di tengah arus globalisasi, budaya lokal tergerus, sejarah terlupakan, dan semangat kolektif sering terkikis oleh pragmatisme. Padahal, jejak perjuangan Rusydiah Club menyimpan pelajaran berharga: bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemajuan pikiran, persatuan, dan kepekaan sosial masyarakatnya.
Kita perlu menghidupkan kembali semangat RC — bukan sekadar sebagai kenangan sejarah, tetapi sebagai inspirasi untuk membangun masa depan Kepri yang bermartabat, berdaulat secara budaya, dan berdaya secara ekonomi. Melalui semangat intelektual, diskusi publik, serta penguatan jati diri, kita dapat menata langkah yang lebih percaya diri di tengah persaingan dunia.
Rencana Seminar Nasional
Sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali warisan berharga ini, dan bertepatan dengan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, kami akan menyelenggarakan Seminar Internasional tentang Rusydiah Club pada 8 September 2025 di Kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Acara ini dilaksanakan bekerja sama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia Wilayah Kepulauan Riau, dan merupakan kelanjutan dari seminar yang telah menjadi agenda kami untuk menjaga kesadaran sejarah bangsa.
Seminar ini tidak hanya bertujuan mengulas sejarah RC, tetapi juga menelusuri relevansinya bagi pembangunan Kepri saat ini. Kami akan menghadirkan narasumber internasional, nasional dan lokal, mengadakan pameran visual arsip sejarah, serta membuka ruang dialog publik. Harapannya, nilai perjuangan yang diwariskan RC—baik dalam pemikiran, budaya, maupun ekonomi—akan menginspirasi generasi muda untuk melanjutkan semangat mengisi kemerdekaan.
Penutup
Rusydiah Club adalah bukti bahwa dahulu tempat kita berpijak dapat melahirkan gagasan besar yang menggerakkan sejarah. Sama seperti para pejuang kemerdekaan 1945 yang mengorbankan segalanya demi merah putih, RC menunjukkan bahwa kebebasan selalu lahir dari keberanian berpikir dan kemandirian ekonomi.
Mari kita jadikan 8 September 2025 sebagai momentum untuk menyambung obor yang pernah dinyalakan para pendahulu, mengobarkan kembali semangat kemerdekaan dari penjajahan, dan menegaskan bahwa Kepulauan Riau adalah bagian dari denyut nadi sejarah kebangkitan bangsa Indonesia.
