Cirebon, kompasone.com.- opini
Mesti dijelaskan dulu apa pengertian dan konteks dari "mengejar dunia." Kalau mengejar dunia yang dimaksud adalah mengerahkan segala daya dan upaya untuk kemaslahatan hidup yang dilakukan dengan cara-cara yang baik, ya tentu saja itulah salah satu tanggungjawab setiap manusia. Hanya saja ada pengertian konotatif manakala makna dari mengejar dunia yang arahnya pada sikap yang dekat dengan serakah, tanpa melibatkan pentingnya memenuhi kebutuhan spiritual seperti ibadah mahdah, bersedekah, berwakaf, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, apabila yang dimaksud mengejar dunia adalah sikap serakah terhadap dunia dan seisinya, jangankan oleh orang yang beragama, oleh orang yang tidak beragama pun dilarang. Kalau mau lebih dalam, lalu sebetulnya apa sih yang harus dikejar berkaitan dengan dunia. Tidak berlebihan, jika ada yang lebih memilih "menjemput" ketimbang mengejar. Allah telah menyediakan segala bentuk rezeki dan kekayaan dunia, kita tinggal menjemputnya dengan segenap do'a dan ikhtiar.
Sementara itu, bagi kaum beriman, soal rezeki dan dunia ini, tidak lantas hanya karena jerih payahnya sebagai manusia. Apa buktinya? Bukankah banyak orang yang telah bekerja keras mengejar dunia, tetapi apa yang dikejar tidak kunjung ia dapatkan? Sehingga itu, sikap tamak sangat dilarang oleh Islam. Sikap terbaik dalam menjemput rezeki dan dunia adalah tawakal. Kita boleh berencana dan bekerja keras sekuat tenaga, tetapi tidak boleh berlebihan sampai kemudian melupakan kebutuhan kita akan ibadah (pasrah) kepada Allah. Bahkan kerja-kerja menjemput dunia kalau diniatkan ibadah maka juga akan berpahala.
Di sinilah fungsi iman. Sebagai penyaring dan alarm dari sikap-sikap tercela atas dunia. Lagi pula Islam tidak melarang kita bekerja keras terhadap dunia, malah Islam mendorong agar kita bisa menjadikan dunia sebagai ladang akhirat. Bagaimana dalam membangun kemapanan dunia, agar jangan sampai melabrak aturan-aturan yang berlaku, dan juga tidak menzalimi orang lain. Penting juga dicatat bahwa apabila ada orang yang mengaku beriman dan beragama (Islam) lalu dikedapatkan melakukan korupsi, tidak bijak jika yang disalahkan adalah iman dan Islamnya, yang salah tetap orang dan perilakunya.
Memang betul bahwa tidak menjamin seseorang yang mengaku beriman dan berilmu tinggi layaknya orang-orang yang disebut ulama, ajengan, habib, cendekiawan dan lain sebagainya, mereka sama seperti kita tidak luput dari ujian dunia. Makanya Al-Qur'an menyebut dunia sebagai perhiasan yang menipu dan mengelabui. Karena dengan kepemilikan harta dunia yang banyak, banyak pula orang yang merasa hidupnya dijamin terntram dan terpuji. Ambil satu contoh, ada seorang ulama terkemuka yang kini telah menikmati jabatan sebagai pimpinan tertinggi partai politik Islam, ia tidak luput dari godaan segala macam bentuk bantuan yang dilakukan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan Islam. Ada juga ulama rangkap jabatan, jadi Menteri, jadi ini, jadi itu, jadi Komisaris di perusahaan tambang yang merusak.
Bahkan dalam beberapa kesempatan berdakwah, saya pernah menyampaikan bahwa kalau saja hidup ini kita tidak mengenal Allah yang Maha Adil, maka sudah pasti saya akan menjadi seperti orang-orang kebanyakan. Mengandalkan relasi "orang dalam", nepotisme, saling melindungi dalam perbuatan tercela, berebut jabatan di Pemerintahan, berebut bantuan dari Pemerintah, memanfaatkan jabatan di Organisasi (keagamaan maupun bukan) untuk meraih jabatan tertentu di Pemerintahan, bermain proyek, membawa proyek dan bantuan ke lembaganya sendiri dan masih banyak perilaku serakah dan keji lainnya.
Atas realitas itulah saya memilih jalan lain, jalan sunyi, jalan yang mungkin berbeda, bahkan asing. Tidak mau terjebak anggah-ungguh, mendiamkan kezaliman, menghambur-hamburkan uang umat, mengatasnamakan kepentingan umat untuk kepentingan pribadi dan seterusnya, dengan konsekuensi circle pertemanannya menjadi semakin mengerucut dan kuantitasnya tidak banyak. Tidak biasa bermanis-manis muka sambil memendam realitas yang pahitnya luar biasa.
Untuk pengalaman dan pegangan saja, agar saya dan tentu saja saya mengajak kepada siapapun agar hidupnya tidak sekadar ikut-ikutan kebanyakan orang. Memang betul, mengejar dunia, dengan cara zalim, dan diraih dengan mental penjilat itu akan sangat cepat didapat. Cepat kaya, cepat naik jabatan, cepat dipuji-puji banyak orang. Bahkan saking mengerikannya tipu-daya dunia, orang berbuat korupsi, zalim dan serakah, ia malah bisa semakin dermawan, semakin agamis, teman-temannya selain pejabat juga ulama. Tetaplah jujur, akui kesalahan kalau berbuat salah, tetap di jalan lurus, teguh pada prinsip, meskipun harta dunianya belum banyak. Semoga kita termasuk orang-orang yang diselamatkan oleh Allah dari tipu-daya dunia dengan kualitas keimanan yang kokoh dan mantap kepada Allah dan kepada kebaikan.
Wallahu a'lam
Penulis: Mamang M Haerudin (Aa)
Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Al-Insaaniyyah, 9 November 2024, 18.54 WIB.
[Tohir Akmal]
