Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Ziarah Makam Sri Sultan Hamengku Buwono IX, UWM Kenang Warisan Pendiri dan Teguhkan Jati Diri Kampus Berbasis Budaya

Kamis, September 24, 2026, 09:45 WIB Last Updated 2026-09-24T02:45:11Z

 


DIY, kompasone.com - Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta melaksanakan ziarah ke makam Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul, Rabu (23/9). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-44 UWM.


Ziarah diikuti puluhan peserta yang terdiri atas Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Ketua Program Studi, Dosen, serta mahasiswa baru UWM. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang jasa dan perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai salah satu pendiri UWM sekaligus meneguhkan kembali nilai-nilai yang menjadi landasan berdirinya perguruan tinggi tersebut.


UWM didirikan pada 7 Oktober 1982 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama KGPH Mangkubumi, yang kini menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dokumen resmi UWM mencatat kedua tokoh tersebut sebagai pendiri universitas yang hingga kini terus mengembangkan pendidikan tinggi berbasis budaya.


Dalam sambutannya sebelum pelaksanaan ziarah, Rektor UWM Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., mengatakan bahwa pelaksanaan ziarah merupakan agenda rutin universitas. Namun, ziarah tahun ini memiliki suasana berbeda karena untuk pertama kalinya selama masa kepemimpinannya kegiatan tersebut dilaksanakan secara langsung di lokasi makam.


“Ini kegiatan kita yang rutin, ziarah kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kita mengunjungi makam beliau untuk mengenang peran-peran beliau sehingga berdiri Universitas Widya Mataram sampai usia 44 tahun,” ujar Prof. Edy.


Menurutnya, ziarah tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan untuk mengenang tokoh pendiri, tetapi juga menjadi sarana refleksi bagi seluruh sivitas akademika. Ziarah mengingatkan bahwa kehidupan manusia memiliki batas dan setiap orang pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta serta mempertanggungjawabkan amanah yang telah dijalankan.


“Dalam filosofi Widya Mataram, dalam filosofi Kesultanan Jogja, dan juga pemerintah Jogja, ada sangkan paraning dumadi. Kita mengingat asal-usul dan tujuan kita sampai yaumil akhir nanti,” tuturnya.


Prof. Edy juga mengingatkan bahwa seluruh sivitas akademika UWM memiliki amanah sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Karena itu, nilai-nilai yang diwariskan para pendiri perlu diwujudkan dalam kehidupan akademik maupun dalam pengabdian kepada masyarakat.


Dalam kesempatan tersebut, Rektor kembali mengingatkan pesan Sri Sultan Hamengku Buwono IX ketika UWM didirikan pada 7 Oktober 1982. Menurut Prof. Edy, UWM sejak awal tidak dimaksudkan sekadar menambah jumlah perguruan tinggi di Yogyakarta, melainkan menghadirkan alternatif pendidikan tinggi berkualitas untuk membentuk calon intelektual yang bermanfaat bagi bangsa, dengan karakter yang tetap berakar pada jati diri bangsa dan budaya Yogyakarta.


“Pesan-pesan itu harus kita pahami, terutama adik-adik mahasiswa baru. Apalagi dosen dan pendidik, kita harus memahami filosofi itu,” kata Prof. Edy.


Ia menyebut sejumlah nilai yang relevan untuk terus dihidupkan dalam penyelenggaraan pendidikan di UWM, antara lain sangkan paraning dumadi, hamemayu hayuning bawana, serta greget, sengguh, ora mingkuh. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi bagian penting dari karakter UWM sebagai kampus berbasis budaya.


“Kalau kita melaksanakan pesan-pesan itu, insyaallah Widya Mataram ini bisa mewujudkan cita-cita Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX,” ujarnya.


Kegiatan ziarah kemudian dilanjutkan dengan doa bersama. Peserta yang mengikuti prosesi menuju makam melaksanakan ziarah sesuai tata cara dan ketentuan yang berlaku di Kompleks Makam Imogiri, sementara peserta lainnya mengikuti doa dari lokasi yang diperbolehkan.


Ziarah tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-44 UWM yang mengusung tema “Transformasi Berkelanjutan Mewujudkan UWM Unggul dan Berkarakter.” Melalui momentum tersebut, UWM meneguhkan komitmen untuk terus mengembangkan pendidikan tinggi yang unggul dengan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya dan warisan pemikiran para pendirinya.


Bagi mahasiswa baru yang turut mengikuti kegiatan, ziarah menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah dan filosofi yang melandasi keberadaan UWM. Dengan demikian, perjalanan pendidikan di UWM tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap jati diri budaya.


Bhenu

Iklan

iklan