Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Arus Peti Kemas PMT Belawan dan Kuala Tanjung Tumbuh 2 Persen Hingga Juli 2026

Kamis, Agustus 13, 2026, 12:08 WIB Last Updated 2026-08-13T05:08:26Z

 


Medan-Belawan, Kompasone.com - Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, tetap mencatat pertumbuhan di tengah tekanan ekonomi global dan perlambatan perdagangan internasional.


PT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat arus peti kemas di kedua pelabuhan tersebut mencapai 403.091 TEUs hingga Juli 2026. Jumlah itu tumbuh sekitar 2 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kamis, 13 Agustus 2026.


Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas logistik dan distribusi barang di wilayah barat Indonesia masih bergerak positif. Kinerja itu terutama ditopang oleh distribusi domestik yang tetap kuat serta mulai meningkatnya aktivitas ekspor komoditas dan produk hasil hilirisasi dari sejumlah kawasan industri di Sumatera.


Pertumbuhan paling tinggi tercatat pada layanan peti kemas internasional di Terminal 2 Kuala Tanjung.

Hingga Juli 2026, volume peti kemas internasional mencapai 24.016 TEUs, atau melonjak 253 persendibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal tersebut juga meningkat 12 persen menjadi 42.815 TEUs.


Kenaikan arus barang tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekspor-impor serta distribusi bahan baku industri, barang konsumsi, dan kebutuhan manufaktur yang masih menopang kegiatan sektor industri nasional.

Pertumbuhan juga terlihat pada layanan barang nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung. Hingga Juli 2026, volume barang nonpeti kemas mencapai 545.730 ton, naik 83 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan ini mencerminkan bertambahnya distribusi komoditas curah dan kebutuhan industri dari. kawasan hinterland Sumatera yang dilayani melalui pelabuhan tersebut.


Kepada wartawan ini, Direktur Utama PT Prima Multi Terminal Rudi Susanto mengatakan, kinerja arus barang hingga semester pertama tahun ini menunjukkan adanya perbaikan aktivitas ekonomi di Sumatera meski perdagangan global masih menghadapi sejumlah tekanan.


“Pertumbuhan arus barang menunjukkan aktivitas ekonomi di Sumatera masih memiliki daya tahan.Distribusi domestik menjadi penopang utama, sementara ekspor dari sektor industri pengolahan dan komoditas mulai memberikan kontribusi yang lebih besar,” kata Rudi.


Dia menambahkan, industri kepelabuhanan masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan jaringan pelayaran internasional, pergeseran rantai pasok global, hingga dinamika geopolitik dapat memengaruhi biaya logistik dan waktu pengiriman barang.

Dalam kondisi tersebut, efisiensi operasional menjadi salah satu kunci untuk menjaga daya saing pelabuhan sekaligus memastikan kelancaran arus barang.


"PMT mencatat rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan mencapai 85,84 persen. Sementara itu, rasio ET/BT di Terminal Kuala Tanjung tercatat 60,00 persen untuk layanan internasional dan 69,00 persen untuk layanan domestik. Untuk mempertahankan kinerja tersebut, PMT melakukan sejumlah langkah optimalisasi, antara lain meningkatkan utilisasi peralatan bongkar muat, menata lapangan penumpukan, serta memperkuat koordinasi dengan pengguna jasa dan antar terminal," jelas Rudi.


Lanjutnya, Aspek keselamatan juga menjadi perhatian perusahaan. Implementasi program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terus diperkuat melalui inspeksi berkala, standardisasi peralatan operasional, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja untuk mempertahankan target nihil kecelakaan kerja.


Rudi menilai posisi pelabuhan akan semakin penting seiring pertumbuhan kebutuhan distribusi barang dan pengembangan kawasan industri di Sumatera.


“Pelabuhan tidak hanya menjadi tempat keluar-masuk barang, tetapi juga bagian dari rantai pasok yang menentukan efisiensi industri. Karena itu, peningkatan keandalan dan efisiensi layanan menjadi penting agar pelaku usaha dapat mengendalikan biaya distribusi dan memperkuat daya saing produk Indonesia,” ujar Rudi 


Berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka, Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung dinilai memiliki posisi strategis sebagai simpul logistik di wilayah barat Indonesia.


Potensi tersebut semakin terbuka seiring dengan berkembangnya kawasan industri dan berlanjutnya program hilirisasi. Pertumbuhan kedua sektor itu diperkirakan turut meningkatkan kebutuhan terhadap layanan logistik dan kepelabuhanan di Sumatera. 


(Zoel).

Iklan

iklan