Sumenep, Kompasone.com - Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang mulia untuk menyehatkan anak bangsa justru disusupi praktik culas oknum tenaga kesehatan. Puskesmas Pandian, Kabupaten Sumenep, kini ketar-ketir dan kelabakan setelah dugaan aksi pungutan liar (pungli) terhadap para pekerja dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terbongkar ke publik.
Sesuai aturan, pengecekan rutin Dapur SPPG mulai dari kesehatan relawan, kelayakan bahan baku, hingga sanitasi merupakan program strategis pemerintah yang dioperasikan menggunakan dana APBD/APBN. Artinya, seluruh layanan dan pemeriksaan kesehatan pekerja dapur tersebut 100% GRATIS.
Namun, aturan manis di atas kertas itu mendadak busuk di lapangan. Oknum Puskesmas Pandian diduga kuat menyunat dompet para pekerja dapur rendah dengan dalih biaya pemeriksaan kesehatan.
Praktik perasan ini diakui langsung oleh para relawan di Dapur SPPG Ummi, yang beralamat di Kecamatan kota Kolor Kab. Sumenep. Alex, (nama samaran) salah satu relawan yang sudah lama memeras keringat di Dapur SPPG Ummi, membeberkan fakta pahit bahwa dirinya selalu ditarik setoran setiap kali petugas Puskesmas Pandian datang cek kesehatan relawan.
"Saya rutin bayar ke petugas yang mengecek kesehatan dari Puskesmas Pandian. Saya rutin bayar Rp50 ribu," tegas Alex tanpa ragu. Sabtu (8/7/26).
Bayangkan, di tengah pengabdian relawan menyajikan makanan bergizi, keringat mereka malah diperah oleh oknum aparat kesehatan yang seharusnya melayani secara cuma-cuma.
Kepanikan Puskesmas Pandian meledak ketika kabar pungli ini tercium media dan LSM. Bak cacing kepanasan, petugas puskesmas buru-buru meluncur ke Dapur SPPG Ummi yang beralamat di Kolor Kecamatan kota Sumenep tersebut untuk mengembalikan uang "haram" yang telah mereka raup dari para relawan.
Dimas nama samaran Juga, yang merupakan relawan Dapur Ummi lainnya, menceritakan keanehan yang terjadi secara mendadak tersebut. Ia dan rekan-rekannya dibuat terheran-heran saat tiba-tiba dipanggil untuk menerima pengembalian uang.
"Ga tahu kenapa saya sama teman saya ditelpon karena ada pengembalian uang dari petugas Puskesmas Pandian. Saya tanya, kenapa dikembalikan? Teman saya menjawab, puskesmas mau kembalikan karena bocor," beber Dimas.
Benar saja, saat Dimas tiba di tempat kerja, petugas puskesmas sudah sibuk membagikan kembali uang Rp50 ribu ke masing-masing relawan. Pengembalian mendadak ini makin mempertegas indikasi rasa bersalah dan kepanikan akut akibat aksi nakal mereka yang terendus.
Aksi tidak terpuji ini memantik amarah publik. Aktivis Pemerhati Kebijakan Sumenep, Rasyid Nadyin, mengecam keras tindakan tercela oknum Puskesmas Pandian yang dinilainya telah menginjak-injak marwah Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep.
"Inspeksi kesehatan lingkungan dan pemeriksaan relawan itu fungsi pengawasan pelayanan publik. Anggarannya sudah dijamin negara lewat APBD atau Pusat, alias gratis!" cercar Rasyid dengan nada tinggi.
Tak berhenti di situ, Rasyid menegaskan akan pasang badan dan menuntut tindakan tegas dari pimpinan tertinggi dinas terkait.
"Saya akan minta langsung ke Ibu Kepala Dinas Kesehatan yang saya Hormati agar Kepala Puskesmas Pandian dicopot! Tindakan ini jelas-jelas sudah membuat kotor dan mencoreng nama baik Dinkes Sumenep," pungkas Rasyid merangsek.
Skandal "sulap mengembalikan uang" ini menjadi bukti gamblang betapa rentannya program pemerintah ditumpangi oknum lapar mata. Publik berharap Kepala Dinas Kesehatan Sumenep berani menindak tegas oknum Puskesmas Pandian.
Jangan biarkan praktik pungli tumbuh subur di balik piring makanan bergizi anak sekolah?
(R. M Hendra)
