Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Nyawa Siswa Diujung Tanduk, Dinas Pendidikan Sumenep Pilih 'Tidur Pulas'

Selasa, Mei 26, 2026, 17:23 WIB Last Updated 2026-05-26T10:23:22Z

 


Sumenep, Kompasone.com - Potret buram pendidikan di wilayah kepulauan kembali menampar wajah Pemerintah Kabupaten Sumenep. Di saat pemerintah daerah gencar memamerkan pembangunan infrastruktur, nasib tragis justru menimpa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Masalima V di Desa Masalima, Kecamatan Masalembu.


Gedung sekolah di ujung timur kepulauan ini kondisinya hancur lebur. Ironisnya, di tengah ancaman atap ambruk yang bisa merenggut nyawa kapan saja, kegiatan belajar mengajar (KBM) terpaksa tetap berjalan. Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep dinilai menutup mata dan terkesan menunggu adanya korban jiwa sebelum bertindak.


Kondisi SDN Masalima V saat ini sudah jauh dari kata layak. Ketakutan para guru dan siswa memuncak setelah beberapa bulan lalu atap ruang kelas 6 jebol total. Hingga kini, total ada tiga ruang kelas (kelas 4, 5, dan 6) serta ruang kantor yang ambruk dan tidak bisa digunakan lagi.


Akibatnya, pihak sekolah terpaksa memutar otak agar 27 siswa mereka tetap bisa belajar. Ruang kelas yang tersisa disekat secara darurat satu ruangan dipaksa menampung dua kelas sekaligus.


"Kami tidak berani lagi menempati ruangan yang rusak. Siswa kelas 4, 5, dan 6 terpaksa mengungsi ke kelas lain yang dijadikan ruang belajar dadakan, sehingga kita tidak berani menempatinya lagi,” ujar Hasim Kasek SDN MASALIMA V saat dihubungi melalui Via call WA, Senin (25/05/2026).


Pernyataan kepasrahan dari seorang kepala sekolah ini adalah tamparan keras bagi moralitas pejabat publik di Sumenep. Bayangkan, di ruang-ruang sekat yang sempit dan pengap itu, konsentrasi belajar anak-anak dikebiri, sementara hak mereka atas pendidikan yang layak dirampas secara perlahan oleh abainya negara.


Ruang kelas yang sejatinya menjadi laboratorium peradaban mencetak generasi masa depan, kini berubah fungsi menyerupai barak pengungsian korban bencana. Bedanya, bencana di SDN Masalima V bukan murni karena alam, melainkan akibat "bencana kemanusiaan" berupa butanya mata hati dan tuli-nya telinga para pemangku kebijakan di Dinas Pendidikan


Ketakutan tidak berhenti di situ. Siswa kelas 3 yang ruangannya masih utuh pun setiap hari harus bertaruh nyawa. Kayu penyangga atap mereka sudah lapuk. Ketika angin kencang atau musim hujan tiba, suasana kelas berubah menjadi horor karena dihantui kecemasan bangunan akan runtuh seketika.


Penderitaan guru dan siswa di pulau terluar ini bukan barang baru. Krisis fasilitas ini sudah berlangsung selama dua tahun penuh. Pihak sekolah mengaku sudah berulang kali melaporkan kondisi kritis ini ke Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep. Namun, respons yang diterima sangat menyakitkan hati."Pihak dinas hanya merespons singkat, 'Katanya tunggu saja'," tiru Hasyim dengan nada kecewa.


Sikap dingin dan lamban dari birokrat pendidikan ini memicu pertanyaan besar dari para wali murid dan masyarakat. Apakah anggaran pendidikan di Sumenep tidak menyentuh wilayah kepulauan? Mengapa hak anak-anak pulau untuk belajar dengan aman harus digadaikan oleh kelalaian birokrasi?


Berikut adalah rincian jumlah siswa SDN Masalima V yang setiap hari harus bertaruh nyawa di bawah atap yang rapuh.


Kelas 1: 2 Orang

Kelas 2: 4 Orang

Kelas 3: 5 Orang

Kelas 4: 5 Orang

Kelas v: 8 Orang

Kelas vl:3 Orang

Jumlah : 27Orng


Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda atau kepastian kapan sekolah ini akan direhabilitasi. Menjijikkannya lagi, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar (Kabid Dikdas) Kabupaten Sumenep yang dihubungi melalui pesan singkat WhatsApp menunjukkan sikap low respon alias acuh tak acuh.


Masyarakat kini menggugat: Sampai kapan para "pujangga" di Dinas Pendidikan Sumenep akan terus tidur pulas di atas penderitaan siswa Masalembu? Apakah tabungan nyawa anak-anak didik ini harus menjadi tumit runtuhnya atap sekolah terlebih dahulu, baru pemerintah akan tergugah?


Kepala Sekolah dan para wali murid hanya bisa berharap pemerintah pusat atau provinsi segera turun tangan memotong jalur birokrasi Pemkab Sumenep yang lamban, sebelum ruang kelas yang rapuh itu benar-benar berubah menjadi kuburan massal bagi generasi penerus bangsa.


(R. M Hendra)

Iklan

iklan