![]() |
| Bhenu Artha Dosen Prodi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram |
Alokasi Anggaran: Prioritas Harus Jelas
THR sebaiknya langsung dialokasikan ke pos utama seperti zakat, mudik, dan kebutuhan lebaran. Dengan perencanaan yang jelas, dana tidak tercecer untuk hal-hal yang kurang penting. Disiplin dalam alokasi anggaran adalah langkah pertama menuju pengelolaan keuangan yang sehat.
Menabung dan Investasi: Jangan Semua Dihabiskan
Sisa THR, sekecil apa pun, sebaiknya dialihkan ke tabungan atau instrumen investasi sederhana. Bukan soal besar kecilnya jumlah, melainkan kebiasaan membangun masa depan. Menjadikan THR sebagai modal jangka panjang lebih bijak daripada sekadar konsumsi sesaat.
Menghindari Pemborosan: Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Lebaran sering kali menjadi ajang belanja besar-besaran. Namun, sikap konsumtif justru menggerus nilai THR. Membatasi diri dengan daftar belanja realistis adalah bentuk kontrol diri yang menunjukkan kedewasaan finansial.
THR sebagai Dana Cadangan bagi Pekerja Lepas dan Wirausaha
Bagi mereka yang penghasilannya tidak tetap, THR harus diperlakukan sebagai dana cadangan. Menggunakannya untuk menutup kebutuhan pokok di bulan-bulan berikutnya lebih bijak daripada menghabiskannya sekaligus.
Kesimpulan
THR seharusnya dipandang bukan hanya sebagai 'uang lebaran,' melainkan sebagai instrumen kecil untuk melatih literasi finansial. Mereka yang mampu menahan diri dan mengalokasikan THR dengan bijak akan merasakan manfaat jangka panjang, sementara yang menghabiskan tanpa rencana hanya akan kembali ke siklus keuangan yang sama: euforia sesaat, lalu penyesalan.
Penulis :
Bhenu Artha
Dosen Prodi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram
