Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

The Legacy of Kindness | Jejak Sedekah Bang Ali dan Cinta Abadi untuk Sang Ibunda

Kamis, Februari 05, 2026, 09:30 WIB Last Updated 2026-02-05T02:30:43Z

Sumenep, Kompasone.com - Dunia mungkin mengenal hukum matematika di mana pengurangan berarti berkurang. Namun bagi Zainal Abidin, atau yang lebih akrab disapa Bang Ali (sebagian memanggilnya Bang Bidin), logika itu tidak berlaku. Sosok keturunan Bani ini membuktikan bahwa tangan yang ringan memberi justru menjadi magnet bagi keberkahan yang lebih besar.


Bagi Bang Ali, berbagi bukan sekadar kewajiban, melainkan gaya hidup. Menariknya, ia tak pernah merasa "kehilangan" saat melepas apa yang ia miliki untuk masyarakat luas. Sebaliknya, hidupnya justru kian dipenuhi ketenangan dan kemudahan—sebuah fenomena yang ia yakini sebagai buah dari doa-doa yang melangit.


Kedermawanan Bang Ali tidak tumbuh begitu saja. Ada sosok bidadari tanpa sayap di balik karakter kuatnya, Almarhumah Hj. Ainun. Sang ibunda adalah guru pertama yang menanamkan pentingnya adab sejak dini.


Ada cerita hangat dari teman-teman masa kecil Bang Ali yang masih membekas hingga hari ini. Konon, setiap kali waktu makan siang tiba, Hj. Ainun tidak pernah hanya memberi makan anaknya sendiri. Siapa pun teman Bang Ali yang sedang bermain di rumah, pasti akan mendapatkan jatah piring yang sama. Beliau memperlakukan teman-teman Bang Ali layaknya darah daging sendiri. Itulah alasan mengapa hingga saat ini, kawan-kawan lama tetap menaruh rasa hormat dan sayang yang besar kepada Bang Ali.


Kehilangan orang tua memang meninggalkan lubang di hati, namun Bang Ali memilih untuk menutup lubang itu dengan amal jariyah. Melalui wadah BIP (Bani Insan Peduli), Bang Ali tengah menyiapkan proyek "cinta" senilai Rp4 Miliar.


Di atas tanah yang ada di  Mojokerto, sebuah Rumah Tahfidz yang diberi nama Asrama Ainun akan segera berdiri. Bangunan ini bukan sekadar beton dan semen, melainkan wujud wakaf atas nama sang ibunda. Rencananya, peletakan batu pertama akan dihadiri langsung oleh Ustadz Adi Hidayat.


"Kehilangan orang tua itu tak terelakkan, tapi bakti kita tak boleh berhenti. Membangun asrama ini adalah cara saya mengabadikan jasa dan cinta Ibu," ungkap Bang Ali dengan penuh haru.


Sambil menunggu proses administrasi dan pembangunan fisik berjalan, Bang Ali tidak lantas berpangku tangan. Dana yang ada saat ini diputar secara kreatif menjadi program Sembako Tebus Murah. Langkah ini diambil agar masyarakat bisa langsung merasakan manfaatnya tanpa harus menunggu bangunan fisik selesai.


Pesan yang dibawa Bang Ali sederhana namun mendalam. Bayangkan jika esok kita berpisah dengan ibunda. Apa yang sudah kita siapkan untuk mengabadikan namanya? Bagi Bang Ali, jawabannya jelas Menebar manfaat.


(R. M Hendra)

Iklan

iklan