Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

CSR SOL Hidupkan Harapan Petani Bawang Merah di Pahae

Kamis, Januari 29, 2026, 09:43 WIB Last Updated 2026-01-29T02:43:16Z

TAPUT, kompasone.com - Di lahan-lahan pertanian Kecamatan Pahae Jae dan Pahae Julu, bawang merah kini tak lagi sekadar tanaman selingan namun telah menjadi sumber penghidupan baru, hasil dari proses panjang pendampingan dan kerja sama antara petani dan Sarulla Operations Ltd (SOL) melalui Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR).


Hasilnya nyata. Enam kelompok tani dengan 74 anggota berhasil mencatatkan panen bawang merah mencapai 11.544 kilogram sepanjang tahun 2025.


Dari hasil panen tersebut, sebanyak 8.125 kilogram berhasil dipasarkan dengan nilai penjualan mencapai Rp350.531.000, dengan harga jual berkisar antara Rp20.000 hingga Rp40.000 per kilogram.


Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada dapur yang kembali mengepul dan ada keyakinan baru bahwa pertanian lokal bisa menjadi tumpuan ekonomi keluarga.


Kelompok tani penerima manfaat tersebar di Desa Sigurunggurung dan Desa Pardamean Nainggolan di Kecamatan Pahae Jae, serta Desa Simataniari dan Desa Janji Natogu di Kecamatan Pahae Julu. Melalui pendampingan intensif, produktivitas petani meningkat signifikan - bahkan mencapai 2,4 kali lipat dari jumlah bibit yang ditanam.


Panen tersebut merupakan hasil dari bantuan 5.404 kilogram bibit bawang merah yang disalurkan SOL pada Mei dan Oktober 2025. Tak hanya bibit, petani juga mendapatkan dukungan sarana produksi pertanian, mulai dari mulsa, pupuk, hingga pestisida.


Namun perjalanan tidak selalu mulus. Sepanjang 2025, petani harus berhadapan dengan cuaca ekstrem. Musim kemarau panjang pada Mei hingga Agustus membuat tanaman kekurangan air, sementara hujan dengan intensitas tinggi pada Oktober hingga Desember memicu risiko penyakit tanaman.


Kondisi ini menyebabkan hasil panen belum sepenuhnya mencapai target optimal.


Meski demikian, bagi petani, hasil yang dicapai tetap menjadi capaian besar.


Selain meningkatkan pendapatan, program ini juga mendorong kemandirian usaha tani.


Sebagian hasil panen sengaja disisihkan oleh petani untuk dijadikan bibit pada musim tanam berikutnya.


Dengan cara ini, siklus produksi dapat terus berlanjut tanpa ketergantungan penuh pada bantuan eksternal.


Pendampingan bawang merah dilakukan melalui pendekatan terpadu. Petani tidak hanya menerima bantuan fisik, tetapi juga pelatihan dan pendampingan teknis sejak tahap persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen.


Program ini dijalankan melalui kerja sama erat antara SOL dan Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Utara, dengan dukungan langsung Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di masing-masing desa.


Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa diversifikasi komoditas pertanian, jika didukung dengan perencanaan dan pendampingan yang berkelanjutan, mampu menjadi solusi peningkatan pendapatan masyarakat.


Bagi SOL, program bawang merah ini bukan sekadar kegiatan CSR, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang dalam penguatan ekonomi lokal dan ketahanan pangan di wilayah operasional perusahaan.


 (Bernat L Gaol)

Iklan

iklan