TAPUT, kompasone.com - Kondisi fisik 40 unit Hunian Sementara (Huntara) bagi warga terdampak bencana di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) menuai sorotan. Sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan pada komponen utama meski belum ditempati oleh penerima manfaat.
Hasil penelusuran kompasone.com di lapangan menemukan beberapa tiang beton tampak retak, dinding berlubang, serta hasil plesteran yang tidak rata.
Pada sejumlah unit, bagian sudut bangunan terlihat rapuh dan mengalami pengelupasan, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas konstruksi bangunan Huntara tersebut.
Seorang warga di sekitar lokasi pembangunan yang enggan disebutkan namanya menyebutkan, kondisi fisik bangunan sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan sejak proses pengerjaan belum sepenuhnya selesai.
“Belum ada yang tinggal, tapi tiangnya sudah retak dan dinding ada yang bolong. Kami khawatir kalau sudah ditempati, bangunan ini tidak bertahan lama,” ujarnya, Selasa (5/2).
Secara teknis, bangunan hunian sementara pascabencana semestinya memenuhi standar minimum kelayakan, antara lain struktur beton tanpa retakan, dinding utuh, serta material yang mampu menahan beban dan pengaruh cuaca.
Retakan pada elemen struktur seperti tiang beton dapat mengindikasikan mutu material yang rendah atau proses pengerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan terkait pengawasan pelaksanaan proyek Huntara, khususnya pada tahap pengerjaan struktur dan finishing.
Padahal, Huntara dirancang sebagai tempat tinggal sementara yang aman dan layak huni bagi warga terdampak bencana sebelum menempati hunian tetap.
Menanggapi temuan tersebut, Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo, menyatakan bahwa retakan pada tiang bangunan tidak menjadi persoalan serius terhadap ketahanan konstruksi.
“Tidak jadi masalah terkait ketahanan fisik pondasi tiang yang ada retak atau patahan, karena masih terdapat tulangan besi yang menahan beban tekanan,” kata Agus menjawab wartawan, termasuk kompasone.com, Kamis (5/2), di sela-sela acara peresmian hunian tetap (huntap).
Pernyataan serupa disampaikan pihak PT Haza Kontraktor selaku pelaksana pembangunan Huntara. Menurut pihak kontraktor, kerusakan tersebut tidak memengaruhi fungsi bangunan.
“Tidak jadi masalah karena bangunan ini sifatnya hanya sementara,” ujarnya singkat.
Sebagai informasi, pembangunan Huntara ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai bagian dari percepatan pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah kecamatan di Taput.
Model Huntara yang dibangun menggunakan teknologi Rumah Instan Sehat dan Aman (RISHAM) yang diklaim tahan gempa. Setiap unit Huntara terdiri dari satu kamar tidur, satu ruang utama, dan satu kamar mandi yang dilengkapi septictank.
Struktur rangka RISHAM berfungsi sebagai tiang utama, termasuk kerangka dinding dan atap. Material dinding menggunakan calsiboard, sementara pintu terbuat dari bahan PVC yang bersifat ringan.
(Bernat L Gaol)

