Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Prof. Edy: Belanja Lokal dan Zakat Dorong Perputaran Ekonomi Rakyat

Jumat, Februari 27, 2026, 13:21 WIB Last Updated 2026-02-27T06:21:37Z

Yogyakarta, kompasone.com - Momentum bulan suci Ramadhan dan Idulfitri kembali menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., Ketua Dewan Pakar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY sekaligus Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta.


Menurut Prof. Edy, peningkatan aktivitas ekonomi selama Ramadhan merupakan fenomena musiman yang secara statistik selalu tercermin dalam kenaikan pertumbuhan ekonomi maupun inflasi. Lonjakan permintaan masyarakat terhadap kebutuhan konsumsi, khususnya produk-produk yang dipasok UMKM, menjadi faktor utama pendorongnya.


“Ketika permintaan meningkat, harga cenderung naik, itu hukum ekonomi. Namun yang perlu dijaga adalah agar kenaikan harga tetap wajar dan tidak dipicu oleh praktik spekulasi atau penimbunan barang,” ujarnya.


Prof. Edy menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga, terutama bahan pangan pokok. Intervensi seperti operasi pasar, pengawasan distribusi, dan kelancaran transportasi logistik dinilai krusial agar rantai pasok tidak terganggu selama periode permintaan tinggi.


Ia menambahkan, momentum Ramadhan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai masa panen sesaat bagi UMKM, tetapi sebagai peluang untuk naik kelas. Lonjakan omzet selama periode ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat modal usaha dan meningkatkan kapasitas produksi.


“UMKM harus berpikir jangka panjang. Jangan seluruh keuntungan dihabiskan untuk konsumsi. Sebagian perlu disimpan atau diinvestasikan kembali sebagai modal agar usaha bisa berkelanjutan setelah Lebaran,” jelasnya.


Salah satu faktor penting yang memperkuat ekonomi rakyat selama Ramadhan adalah distribusi zakat, infak, dan sedekah. Menurut Prof. Edy, transfer daya beli dari kelompok masyarakat berpendapatan tinggi kepada kelompok berpendapatan rendah meningkatkan marginal propensity to consume.


“Kelompok berpendapatan rendah cenderung langsung membelanjakan dana yang diterima untuk kebutuhan pokok. Uang itu berputar di sektor riil dan mayoritas dibelanjakan pada produk-produk lokal UMKM,” terangnya.


Perputaran ekonomi tersebut menciptakan efek multiplier, memperluas kesempatan kerja, dan menjaga rantai ekonomi tetap berjalan. Tradisi mudik juga dinilai turut memindahkan pusat konsumsi dari kota-kota besar ke daerah, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.


Dalam konteks dinamika ekonomi global dan nasional, Prof. Edy mengakui adanya tekanan, seperti fluktuasi nilai tukar dan gejolak pasar keuangan. Namun ia menegaskan bahwa UMKM Indonesia, termasuk di DIY, memiliki karakter tahan banting.


“Pengalaman krisis 1998 dan pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa sektor UMKM justru menjadi penyelamat ekonomi nasional. Mereka adaptif, fleksibel, dan cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan,” katanya.


Ia mencontohkan bagaimana pelaku usaha kecil mampu melakukan penyesuaian strategi produksi dan harga tanpa kehilangan konsumen, sebagai bentuk kecerdasan ekonomi yang lahir dari pengalaman langsung.


DIY disebut sebagai salah satu daerah dengan dominasi UMKM yang kuat. Struktur ekonominya memang ditopang sektor usaha mikro, kecil, dan menengah, dengan dukungan kolaboratif dari pemerintah daerah, perbankan, otoritas keuangan, organisasi profesi, serta perguruan tinggi.


Sinergi antara pelaku usaha, akademisi, lembaga keuangan, dan regulator dinilai menjadi kunci terjaganya ekosistem UMKM di Yogyakarta. Program pameran, pendampingan, akses pembiayaan, hingga literasi keuangan terus didorong untuk membantu pelaku usaha memperluas pasar, bahkan hingga ekspor.


“Momentum Ramadhan harus dilihat sebagai peluang memperkuat fondasi ekonomi rakyat. Jika dikelola dengan baik, ini bukan hanya pertumbuhan musiman, tetapi bisa menjadi akselerasi menuju UMKM yang naik kelas dan berdaya saing,” pungkas Prof. Edy.


Bhenu

Iklan

iklan