Sumenep, Kompasone.com – Aroma "titipan" mulai menyengat di lorong-lorong Setdakab Sumenep. Di balik tirai jargon santun "Bismillah Melayani", sebuah drama perebutan kursi Sekretaris Daerah (Sekda) kini memasuki babak paling krusial. Aliansi Sumenep Bangkit (ASB) secara terang-terangan melemparkan granat kritik. ( Menolak Agus Dwi Saputra)
Ini bukan sekadar urusan suka atau tidak suka. Ini adalah gugatan terbuka terhadap martabat birokrasi yang terancam digadaikan demi "anak emas" kekuasaan.
Bagus Junaedy yang akrab disapa Bang (Edy) tidak main-main saat menyodorkan PP No.17/2020 ke meja Bupati. Pesannya jelas: Jabatan Sekda bukan ajang uji coba. Secara logika birokrasi, menempatkan sosok yang usianya masih terlalu muda dan "hijau" rekam jejaknya untuk memimpin ribuan ASN senior adalah resep sempurna menuju kehancuran soliditas.
Logikanyanya Bagaimana mungkin seorang "anak kemarin sore" di kursi Sekda bisa mendisiplinkan para Kepala Dinas yang sudah makan asam garam birokrasi?
Jika Agus dipaksakan naik, Sumenep terancam mengalami demotivasi massal. Para PNS berprestasi akan berpikir: "Buat apa kerja keras kalau jabatan tertinggi bisa diraih lewat jalur 'tol' kedekatan?"
ASB secara cerdas membidik titik lemah Agus selama menjabat sebagai Kadis Pendidikan. Mari kita jujur.. Mana terobosan monumentalnya?
Edy membedah realitas pahit. Di saat daerah lain sudah bicara asrama gratis dan subsidi penuh bagi mahasiswa perantauan sebagai bentuk investasi SDM, Sumenep masih terjebak dalam lingkaran setan seremoni.
"Kalau cuma pamer foto seminar dan rapat koordinasi, itu bukan prestasi, itu rutinitas. Rakyat butuh kebijakan yang terasa di dompet, bukan sekadar angka-angka di atas kertas laporan yang dipercantik," semprot bang Edy.
Kini, publik Sumenep sedang menonton sebuah tontonan mahal. Yang sedang diperankan oleh aktor intelektual. Apakah Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo akan bertindak sebagai Negarawan yang patuh pada sistem merit, atau hanya sebagai Politisi yang sedang mengamankan "bidak" untuk kepentingan jangka pendek?
Meski Didik Wahyudi (Asisten Pemkab) berjanji meneruskan aspirasi ini, publik tetap skeptis. Aspirasi seringkali hanya berakhir di laci meja jika tidak dikawal dengan tekanan yang konsisten.
Bang Edy melontarkan Pesan Penutup "untuk Bupati yang kami cintai.dan Kami Hormati, Kursi Sekda adalah motor penggerak. Jika mesinnya dipaksa menggunakan onderdil" yang belum teruji hanya karena faktor kedekatan, jangan kaget jika di tengah jalan mesin birokrasi Sumenep mendadak mogok ( deadlock ).
Jangan sampai sejarah mencatat, di bawah jargon "Melayani", birokrasi Sumenep justru sedang "Melayani Kepentingan Kelompok".
(R. M Hendra)
