Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Jangan Rampok Gizi Anak Kami! Aktivis Kecam Menu 'Melas' Dapur Penyedia MBG di SMPN 3 Sumenep

Sabtu, Januari 31, 2026, 20:31 WIB Last Updated 2026-01-31T13:32:11Z

Sumenep, Kompasone.com – Niat mulia Presiden Prabowo Subianto untuk mencerdaskan otak anak bangsa lewat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya sedang "masuk angin" saat mendarat di SMPN 3 Sumenep.


Alih-alih mendapatkan asupan protein yang bikin otak encer, para siswa justru disambut menu yang lebih mirip bekal darurat akhir bulan segumpal tahu, seiris tempe, dan kerupuk sebagai "pemanis" biar kotak makan nggak terlihat terlalu melas.


Bagaimana mungkin anak sekolah bisa bersaing secara intelektual jika "bensin" tubuhnya hanya sebatas protein nabati kelas ekonomi? Bukannya jadi generasi emas, kalau begini caranya malah bisa jadi "generasi lemes".


Rasyid Nadyin, seorang aktivis pemerhati kebijakan sekaligus wali murid kelas 9, meradang melihat kondisi ini. Putrinya, Nadia Novita Indah, yang biasanya dijaga ketat kebersihan makanannya di rumah, justru harus berhadapan dengan menu sekolah yang jauh dari standar 4 sehat 5 sempurna.


"Anak saya di rumah makanannya sangat terjaga karena dasar kesehatan itu adalah kebersihan. Saya sebagai ayah merasa terpukul jika siswa hanya dikasih jatah tahu dan tempe. Ditambah lagi buah kelengkeng yang sudah tidak layak makan, sudah kecut karena busuk," ungkap Rasyid dengan nada pedas.


Yang bikin geleng-geleng kepala, setiap siswa hanya dijatah tiga biji kelengkeng. Sudah sedikit, busuk pula. Rasyid pun melontarkan sindiran tajam kepada pihak dapur penyedia: "Apa harus ada korban keracunan dulu baru mau dibenahi? Kami tahu mana makanan layak dan mana yang sampah!" tegasnya.


Tak hanya soal kualitas, manajemen dapur penyedia MBG di SMPN 3 Sumenep ini juga diduga suka "kreatif" yang kebablasan. Rasyid menyoroti adanya indikasi jatah makanan hari Sabtu yang disatukan pengirimannya di hari Jumat. Padahal, secara logika, kesegaran makanan tidak bisa ditawar.


"Jangan dijadikan kesempatan mencari keuntungan pribadi. Niat mulia pemerintah pusat ini jangan dijegal di tingkat dapur penyuplai. Yang rugi itu anak-anak penerus bangsa!" tambahnya. Ia pun meminta pengawasan ketat langsung dari pusat agar dana negara tidak hanya menguap menjadi tahu-tempe kualitas rendah.


Kepala SMPN 3 Sumenep, Bapak Saiful, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya tidak menampik adanya keluhan tersebut. Beliau mengaku sudah sering menegur pihak pengantar MBG agar lebih memperhatikan kualitas makanan.


"Setiap ada keluhan dari siswa, saya langsung sampaikan. Saya tidak mau siswa-siswi yang saya cintai jatuh sakit dan terganggu waktu belajarnya. Saya sangat berharap ada pembenahan total dari dapur penyedia," ujar Saiful tegas.


Sampai berita ini diturunkan, pihak dapur MBG yang bertanggung jawab menyuplai makanan ke SMPN 3 Sumenep seolah "lenyap ditelan bumi" dan belum memberikan keterangan resmi terkait menu tahu-tempe serta buah busuk tersebut.


Sikap bungkam ini tentu menjadi tanda tanya besar: apakah mereka sedang sibuk menghitung untung di atas piring melas para siswa, atau memang tak punya nyali untuk mempertanggungjawabkan kualitas layanan mereka?


Publik, terutama para orang tua murid, kini menunggu keberanian dinas terkait untuk segera turun tangan mengevaluasi kontrak kerja sama dapur yang diduga "nakal" ini sebelum piring-piring plastik itu kembali diisi dengan ketidaklayakan.


Kini Boomerang ada di tangan pihak pengelola dapur MBG. Jika niatnya adalah bisnis semata tanpa memikirkan gizi, lebih baik angkat kaki sebelum "bom waktu" kesehatan siswa benar-benar meledak di Sumenep.


(R. M Hendra)

Iklan

iklan