Sumenep, Kompasone.com – Dunia pertanian di Kecamatan Lenteng lagi nggak baik-baik saja. Bau amis dugaan "main mata" antara Kelompok Tani (Poktan) Surya Tani dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lenteng makin menyengat. Isunya klasik tapi bikin nyesek: bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) berupa handtraktor diduga raib digondol kepentingan pribadi, sementara petani kecil cuma bisa gigit jari.
Awalnya, sosok bernama Ali Wafa muncul bak pahlawan kesiangan. Dengan nada tinggi dan rekaman medianya yang viral, ia berjanji bakal mengusut tuntas Ketua Poktan yang diduga telah melenyapkan handtraktor tersebut. Publik sempat menaruh harapan, tapi apa daya? Belakangan, Ali Wafa malah dicap "impoten". Semangatnya yang dulu berapi-api mendadak padam, seolah kena siram air es. Ada apa, Mas Ali? Takut atau sudah "kenyang"?
Ketua Koordinator Lapangan (Korlu) BPP Lenteng mencoba mendinginkan suasana dengan jawaban normatif khas pejabat.
"Info dari Ketua Poktan, sudah bermediasi dengan anggotanya. Barangnya sudah akan diserahterimakan pada acara pertemuan rutin kelompok," ujar Korlu singkat.
Tapi tunggu dulu, semudah itukah? Masalah barang negara yang diduga sempat dijual atau dihilangkan nggak bisa selesai cuma dengan kata "maaf" dan "nanti dikembalikan".
Kritik pedas datang dari Aktivis Pemerhati Kebijakan Publik, Rasyid Nadyin. Ia melihat ada skenario busuk di balik perdamaian mendadak ini. Rasyid menduga anggota Poktan sudah "masuk angin" sehingga mendadak kendor.
"Ada kejanggalan fatal. Barang asli diduga sudah ditukar dengan barang lain untuk mengelabui masyarakat. Ini usaha bodoh untuk menutupi fakta!" tegas Rasyid. Tak main-main, ia berjanji akan menyeret kasus yang mengotori marwah pertanian ini ke Kejaksaan Negeri Sumenep.
Publik kini bertanya-tanya:
Kenapa Ketua Poktan berani sekali diduga menggelapkan aset negara? Apakah dia kebal hukum? Atau memang ada "tangan kuat" di belakangnya yang menjamin dia aman dari jeruji besi,
Kita lihat saja nanti, apakah hukum di Sumenep masih punya taji, atau justru ikut-ikutan "masuk angin" seperti oknum-oknum di Lenteng.
(R. M Hendra)
