Sumenep, Kompasone.com - Pernyataan kontroversial dari Panitia penyelenggara Madura Culture Festival (MCF) 2025, Sugeng Hariyadi, yang menyebut RSUD dr. H. Moh. Anwar (RSUDMA) Sumenep hanya menyumbang Rp500 ribu, kini menuai kecaman dan dugaan manipulasi dana publik.
Pernyataan Sugeng tersebut bertolak belakang dengan fakta di lapangan, yang mengindikasikan bahwa RSUDMA Sumenep telah menyumbang jauh lebih besar. Direktur RSUDMA Sumenep, dr. Hj. Erliyati, M.Kes, dengan tegas membantah klaim tersebut.
Meskipun enggan membeberkan nominal pasti, ia menekankan bahwa sebagai OPD Pengampu, RSUDMA telah memberikan kontribusi signifikan. "Tidak apa-apa meski disebut tidak menyumbang, tapi perlu teman-teman tahu, kami adalah salah satu OPD Pengampu kegiatan itu," ujar Dokter Erli, mengisyaratkan bahwa peran mereka jauh melampaui sekadar sumbangan nominal kecil.
Pernyataan Sugeng yang sebelumnya berdalih bahwa minimnya dukungan sponsor, dengan menyebutkan nominal kecil dari berbagai pihak, termasuk Rp500 ribu dari RSUDMA, kini dipertanyakan.
Dugaan manipulasi dana semakin menguat setelah beredar kabar bahwa sumbangan dari RSUDMA sebenarnya mencapai Rp20 juta. Jika informasi ini benar, maka panitia telah menggelapkan dana sebesar Rp19,5 juta.
Tidak hanya itu, laporan terkait pungutan dana dari paguyuban pengusaha rokok juga menambah keraguan akan transparansi panitia. Dana yang terkumpul sebesar Rp40 juta, dengan sisa Rp10 juta yang tidak jelas peruntukannya, menjadi sorotan tajam.
Publik kini menuntut audit forensik dan pertanggungjawaban hukum dari panitia MCF 2025, serta pihak-pihak yang terlibat. Aksi "Raja Event" Sumenep ini tidak hanya mencoreng nama baik Pemkab Sumenep, tetapi juga berpotensi masuk dalam ranah pidana penggelapan dana publik.
Apakah dugaan penggelapan dana publik ini akan diusut tuntas atau berakhir dalam kebisuan.. Ntahlah hanya tuhan yang tahu.
(R. M Hendra)
